Berlayar dari London ke Amsterdam

Bepergian antar negara di Eropa  paling nyaman memang naik kereta. Sudah sering saya posting perjalanan suka duka kami naik kereta di Eropa. Naik bis juga sudah pernah saat ke eropa pertama kali dengan travel agent. Untuk petualangan baru, kami ingin mencari moda transportasi yang lain saat menuju Amsterdam dari London. Kami menghindari naik pesawat. Terlalu singkat perjalanannya dan kurang asik. Kami memilih naik kapal ferry!

Continue reading “Berlayar dari London ke Amsterdam”

Membiarkan Anak Rajawali Mengepakkan Sayapnya

Catatan: Berikut ini bukan catatan perjalanan, tapi catatan hati seorang Ibu di perjalanannya dari Cologne ke Amsterdam.

Persiapan untuk si Sulung sekolah di Jerman sepertinya sudah beres. Sehari sebelum pulang, saya melakukan re-check dengan si Sulung apalagi yang harus dia lakukan. Mulailah beberapa wejangan keluar. Seperti jangan lupa deadline perpanjangan visa. Hati hati dengan passport. Jangan lupa langsung urus health insurance. Hati-hati dalam bergaul. Selalu dekat dengan Tuhan dan ke gereja setiap minggu. Dan masih banyak lagi.

Continue reading “Membiarkan Anak Rajawali Mengepakkan Sayapnya”

Membuat Visa di Kedutaan Jerman

Bisa dibilang, Kedutaan Jerman adalah Kedutaan yang paling sering dikunjungi oleh keluarga kami. Jenis visanya pun bermacam-macam. Sehingga pengalaman yang kami dapatkan pun beraneka rupa.

Satu tips untuk apply visa di kedutaan Jerman adalah, selalu jadikan website resminya sebagai panduan untuk melihat syarat-syaratnya. Infonya sangat jelas dan sudah ditulis dalam Bahasa Indonesia. Syarat tersebut bisa berubah, tergantung situasi politik ekonomi Jerman. Agen yang membantu pembuatan visa hanya membantu anda membaca dan memahami syarat di web. Kalau anda merasa cukup cerdas untuk membaca, maka pembuatan visa bisa dilakukan sendiri. Kedutaan Jerman tidak pernah menunjuk satu agen pun untuk membantu mempermudah atau mempercepat pembuatan visa. Continue reading “Membuat Visa di Kedutaan Jerman”

Lima Cara Menikmati Prague

Prague adalah kota yang dibangun dengan seni tinggi. Jadi selain dinikmati secara cepat dengan bersepeda, Prague perlu dinikmati perlahan dengan berjalan kaki. Lalu enaknya ngapain aja di Prague? Berikut adalah beberapa kegiatan yang kami lakukan.

1.Menyusuri Charles Bridge

Hampir semua kota kuno di Eropa dibangun di bantaran sungai. Tak heran jembatan yang menghubungi kedua sisi sungai banyak yang menjadi bangunan iconic. Charles Bridge atau Karlův most adalah salah satunya. Jembatan yang dibangun abad 13 ini menghubungkan Prague Castle dengan daerah kota. Ibaratnya seperti jembatan yang dilalui raja saat turun gunung (bukit sih sebenarnya) mengunjungi rakyatnya.

Continue reading “Lima Cara Menikmati Prague”

Berkeliling Prague dengan Sepeda

Wisata kota Prague sangat kompak karena lokasinya berdekatan satu sama lain. Bus city tour tidak ada karena jalannya yang sempit seperti labirin. Naik kereta kayaknya gak praktis dan gak bisa lihat pemandangan karena adanya di bawah tanah. (Rute kereta sebenarnya mudah dipelajari karena hanya ada 3 jalur, merah, kuning dan hijau.) Paling gampang sih dijabanin dengan jalan kaki, meski lumayan bikin kaki gempor. Apalagi jalannya naik dan turun bukit.

Lalu bagaimana enaknya keliling Prague yang praktis? Ada 3 cara. Continue reading “Berkeliling Prague dengan Sepeda”

Meleleh di Perjalanan Menuju Praha

Hari ke-8 perjalanan kami ke Eropa Tengah, kami beranjak meninggalkan Budapest menuju Praha atau Prague. Lagi-lagi kami memutuskan naik kereta. Sebenarnya naik kereta merupakan salah satu cara kami untuk beristirahat, dengan cara duduk santai dan bengong menikmati pemandangan.

Pengalaman naik kereta malam yang kurang nyaman dari Munich ke Budapest, membuat kami was-was. Kereta yang akan kami naiki nanti, bagus gak ya? Kalau melihat kunonya stasiun Budapest Keleti yang dibangun tahun 1884, kok ya ragu-ragu bakal ada kereta modern mampir di situ. Continue reading “Meleleh di Perjalanan Menuju Praha”

Sisi lain Budapest

Hungaria terkenal dengan wine-nya. Saking enaknya wine dari Hungaria, konon Inggris mengimpor wine dari Hungaria, khusus untuk konsumsi keluarga kerajaan. Meski demikian dari sisi kuantitas, jumlah produksi wine Hungaria masih kalah jauh dari negara Eropa lainnya seperti Perancis, Italia dan Spanyol. Inilah alasan kami mengambil Winery Tour di pinggiran Budapest. Tepatnya di daerah Etyek, sekitar 30km dari Budapest. Pengen tahu juga sisi lain dari Hungaria selain kota tua. Sekaligus mengantisipasi kebosanan anak-anak dengan kota tua. Continue reading “Sisi lain Budapest”

Perjuangan Memasuki Budapest

Budapest ibu kota Hungaria, merupakan kota eksotis yang sangat ingin kami kunjungi. Negara yang beretnik suku Magyar ini, sudah ada sejak abad ke-9, dan mencapai masa kejayaannya di abad 15. Melewati sejarahnya yang panjang, Hungaria luluh lantak saat Perang Dunia. Bahkan Kerajaan Kristen ini sempat takluk di bawah kekuasaan Komunis Rusia sejak Perang Dunia II. Namun seiring dengan jatuhnya kekuasaan Rusia di Eropa pada tahun 1989, Hungaria berdiri sebagai negara Republik Parlemen dan perlahan mulai membuka diri sejak tahun 1990an.

Sekarang Hungaria seperti Sleeping Beauty yang baru bangun dari tidurnya yang panjang. Di semester pertama tahun 2015, Budapest mencatat kenaikan jumlah turisnya hingga 17,8%. Bandingkan dengan Indonesia yang mencatat kenaikan sekitar 4% di periode yang sama, sudah dianggap prestasi bagus, mengingat negara tetangga malah mengalami minus growth. Continue reading “Perjuangan Memasuki Budapest”

Bersenandung Sepanjang Salzburg

Saat menyusun itinerary, awalnya kami tidak memasukkan Salzburg sebagai salah satu kota tujuan. Justru kami ingin ke Neuschwanstein Castle, istana yang menjadi inspirasi design Sleeping Beauty Castle di Disneyland. Tapi saat melihat peta, kota di negara Austria yang berbatasan dengan Jerman itu menarik perhatian.

Saya mengikuti diskusi dulu di Tripadvisor untuk topik, “Bila kita hanya punya waktu satu hari di Munchen, lebih baik ke Neuschwanstein Castle atau ke Salzburg”. Ternyata jawabannya 75% memilih ke Salzburg. Selain alasan itu, saya pun ingin mengimbangi jalan-jalan kami ini dengan pemandangan alam, tidak melulu kota tua.

Continue reading “Bersenandung Sepanjang Salzburg”

Munich (3) yang Kekinian

Kami meneruskan perjalanan ke Olympic Park. Bis hop on hop off dengan tour guide si Oma sudah ganti dengan bis yang lain. Perjalanan hanya 15 menit menuju kompleks olahraga tersebut. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, masa kejayaan kuno Munich yang tercermin dari Istana Nymph, sudah diganti dengan kejayaan Munich masa kini yang modern. Meskipun Olympic Park dibangun tahun 1972, tapi arsitektur bangunan dan tamannya nampak modern.

Mun_bmwmap
Rute shuttle bus

Dalam kompleks tersebut terdapat  Olympic Stadium, Olympic Tower, Sea Life Aquarium, yang dapat dicapai dengan berjalan kaki. Bisa juga nyebrang ke samping kompleks melihat BMW World dan Musium BMW yang design bangunannya mencerminkan teknologi tinggi. Suami memutuskan nanti saja berjalan-jalan di area itu. Ia lebih mementingkan mendatangi Alianz Arena. Jadi kami segera naik shuttle bus lain yang khusus mengantar kami ke markas Bayern Munchen.

Sepuluh menit naik shuttle, nampaklah bangunan Alianz Arena yang khas itu. Tidak terlihat beton atau besi pada dinding luarnya, seperti stadion bola pada umumnya. Ada lapisan semacam plastik menutupi seluruh dinding luar yang memungkinkan stadion berpendar aneka warna di malam hari. Suami dan si Sulung terlihat sangat antusias, seperti pemain bola yang sudah tidak sabar akan bertanding.

Shuttle bis berhenti tepat di depan pintu gerbang stadion. Di bawah teriknya matahari dan suhu 35oC saat itu, kami berjalan menuju stadion. Di luar gedung kelihatannya sangat sedikit turis yang datang. Setelah masuk ke pintu utama, ternyata manusia semua isinya. Dalam ruangan ini, sebagian besar pengunjung sedang antri tiket masuk, sebagian lagi makan di food court.

Mun_AlianzArena

Tiket terdiri atas 3 jenis. Tiket museum + recorded guide seharga 12 Euro. Tiket stadion + live guide tour seharga 10 Euro. Atau kalau mau keduanya, pilih Tiket combo seharga 19 Euro. Tentunya harga tiket anak dan tiket grup beda lagi harganya. Suami ingin sekali ikut Tour ke Stadion. Sedangkan si Sulung ingin ke musiumnya. Saya dan si Bungsu tidak ingin ikut kedua tour. Buat apa bayar mahal cuma untuk liat lapangan rumput di stadion atau piala-piala bola di Musium, pikir saya. Tapi dipikir-pikir lagi daripada bengong nungguin, ya udah lah ikut aja sekalian. Setelah rapat keluarga singkat, akhirnya diputuskan kami semua ikut Tour ke Stadion.

Beres beli tiket, kami menunggu tour yang baru akan mulai 40 menit lagi dengan makan siang di foodcourt. Tidak banyak pilihan makanan di sini. Hanya ada sandwich dan sosis dengan rasa standar nyaris gak enak. Harga makanan masih normal sekitar 4 Euro, tapi harga minumnya mahal banget 2,5 Euro.

Ternyata semua orang yang makan di foodcourt adalah orang yang mau ikut Tour Stadion. Tournya memang dimulai di tempat makan ini. Masuklah sekitar 5 orang guide berbaju olahraga, membagi kerumunan orang itu dalam kelompok kecil berisi 40an orang. Setiap grup dipimpin oleh seorang tour guide, memulai tour dengan awal yang berbeda-beda.

Grup kami dipimpin oleh seorang tour guide laki-laki turunan Afro-Europian yang sangat energik dengan suara lantang terdengar oleh semua anggota. Beruntung sekali dapat guide ini. Kalau lihat grup lain ada yang guidenya sudah opa, ada juga yang guidenya wanita cantik tapi suaranya kurang keras.

Mun_insidestadion

Anggota grup terdiri dari berbagai Bangsa, Bahasa, umur, pokoknya beragam sekali. Keluarga kami satu-satunya yang berwajah Asia. Rute pertama adalah masuk stadion. Dijelaskan macam-macam jenis kursi di stadion berdasarkan harga tiket paling murah dan tiket seharga rumah mewah di Jakarta. Mengapa orang rela membayar tiket segitu mahal untuk nonton bola? Ia menjelaskannya dengan suatu situasi dalam pertandingan bola, dimana pemain bola yang kita jagokan tiba-tiba memasukkan goal di detik akhir pertandingan. Ia menanyakan bagaimana kami akan bereaksi. Sontak kami berteriak “Goal” dengan sangat kencang. Teriakan ini diadu berkali-kali hingga kami mendengar terikan gila paling keras yang bisa kami buat. Dengan tenang guide itu berkata,”Grup ini tidak sampai 50 orang, tapi suaranya sudah terdengar keras dan seru. Bayangkan bila ratusan ribu penonton berteriak seperti ini, dengan merasakan emosi yang sesungguhnya … Keseruan yang tidak terbayar harganya!” Wow….benar juga. Eh tapi saya sih mending uangnya buat beli rumah.

Selanjutnya kami dibawa mendekati lapangan rumput. Dijelaskan bagaimana stadion ini dirawat dengan teliti dan seksama. Betapa mahalnya merawat rumput tok, agar sesuai dengan standar internasional. Lalu kami digiring masuk ke ruang ganti para pemain bola tuan rumah Bayern Munchen, ruang ganti pemain tamu, ruang kedatangan para pemain saat turun dari bis, hingga ruang press conference.

Mun_ruangganti

Semua rungan diceritakan dengan detail dan seru sehingga kami bisa membayangkan bagaimana keadaan sebenarnya. Perlahan saya terbawa suasana menyenangi tour ini dan merasa sudah menjadi pencinta bola. Klimaksnya adalah saat kami dibagi menjadi 2 baris, seolah-olah kami dua team sepak bola yang akan bertanding. Kami masuk ke suatu ruangan dimana biasanya kedua team yang akan bertanding pertama kalinya saling bertemu muka. Diiringi reffrein lagu UEFA Champions League Anthem yang megah, kami benar-benar merasakan serunya suasana pertandingan yang penuh persaingan tapi sportif. Hiiih jadi merinding….

Tour diakhiri di luar stadion, dimana guide menjelaskan lapisan luar stadion yang terpuat dari panel plastik khusus. Dijelaskan bagaimana panel berpendar di malam hari, bagaimana teknologi plastik itu ditemukan, dan mahalnya biaya perawatan. Potongan plastiknya ditunjukkan dan diedarkan ke seluruh grup. Tour diakhir dengan kesan yang mendalam dan kami segera bubar. Kami menyempatkan mampir ke toko souvenir Bayern Munchen dan membeli sesuatu untuk kenang-kenangan.

mun_bmwmuseum.jpg

Shuttle bus membawa kami kembali ke Olympic Park. Kami memutuskan tidak akan berjalan-jalan di arena olahraga lagi. Kami memutuskan untuk ke Musium BMW, yang gedungnya nampak keren dan hi-tech. Jalan dari bus stop ke musium sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi heatwave yang sedang melanda benua Eropa cukup ampuh membuat kami kepayahan. Kami merasa semakin “lemas” saat melihat harus beli tiket masuk lagi. Harga tiket perorangan 10 Euro. Kami membeli tiket untuk keluarga 24 Euro, untuk 2 dewasa dan 3 anak dibawah 18 thn. Terus terang pengeluaran membeli tiket ini unbudgeted hehehe…mikirnya gratisan melulu sih.

Musium BMW berisi replika berbagai produk BMW mulai dari motor, mesin pesawat, mobil, hingga yacht berikut sejarahnya. Penjelasan ditulis dalam 2 bahasa, Inggris dan Jerman. Entah karena capek atau memang gak terlalu minat ke museum ini, saya tidak ingin berlama-lama di sini. Sebaliknya, anak-anak sih seneng-seneng aja. Malah masih mau lanjut berrjalan ke gedung sebelah menuju BMW World. Tempat ini berisi mobil BMW keluaran terbaru. Ada juga Mini Cooper dipamerkan disitu.

Mun_BMW

Kaki saya sudah cenut-cenut rasanya saat menuju bus. Ditambah dengan panasnya udara saat itu, membuat saya dehidrasi dan tidak lagi terlalu menikmati tour selanjutnya di dalam kota. Kami menikmati saja dari jendela bis, sisa rute hari itu. Sambil mendengarkan penjelas tour guide.

Melewati Schwabing  dan English Garden, terlihat banyak sekali orang Jerman yang berjemur dengan pakaian renang di pinggir sungai yang mengering, gak ada indah-indahnya. Kalau kami si orang tropis ini kepayahan dengan teriknya matahari, mereka malah bersukacita menjemur diri menikmati sinar matahari yang berlimpah. Pantesan mereka melotot kalau ke Bali. Pemandangan sungai yang mengering dibandingkan dengan pantai-pantai di Indonesia nampak jauuuuh banget keindahannya. Bagai langit dan bumi.

Kami tidak mampir di Pinakotheken, karena sudah lelah untuk masuk musium lagi. Kami juga melewati saja Odeonsplatz dan Max-Joseph-Platz. Terus terang saya tidak bisa membedakan ketiga tempat itu karena bentuknya mirip-mirip. Kami memutuskan berhenti di Marien Platz untuk mencari makan malam.

Sebenarnya masih terlalu sore untuk makan malam. Tapi kami sudah berencana makan makanan khas Munich yaitu Weißwurst, sosis putih yang disajikan dengan mustard manis dan pretzel. Salah satu tempat yang direkomendasikan oleh Tripadvisor adalah Weisses Brauhause. Lokasinya dekat dengan bus stop bis HOHO, persis di pojokan jalan. Depan restaurant ada meja kursi di bawah payung besar. Kami lebih memilih masuk ke dalam restaurant, supaya lebih adem dan agak kosong. Biar bule-bule yang nyari matahari aja yang duduk di luar.

mun_weissesbrauhaus.jpg

Seorang pelayan cantik berbadan tinggi besar menyambut kami dengan ramah. Betapa kecewanya kami saat hendak memesan Weißwurst, makanan itu hanya disajikan untuk sarapan. Setelah lonceng gereja berdentang 12 kali pada siang hari, maka sosis itu tidak dihidangkan lagi. Seperti Cinderela kesiangan, kami merasa bodoh karena tidak browsing dulu mengenai hal ini. Si mbak pelayan dengan ramahnya menawarkan makanan lain yang katanya masih khas Munich. Kami setuju dengan sarannya, jadi kami memesan 1 pork knuckle dan 1 sosis plater. Kami minta piring kecil untuk sharing makanan, karena saat ini belum jam makan malam, masih belum ingin makan banyak. Tidak lupa kami pesan juga bir dingin non alcohol.

mun_food.jpg

Saat pesanan dihidangkan, ternyata porsinya besar sekali. Untung kami hanya memesan 2 porsi. Porsi itu lebih dari cukup sebagai porsi makan malam kami berempat. Sampai begah kami menghabiskannya. Bagaimana dengan rasa makanannya? Enyak sekali. Pork knuclenya gurih dan kulitnya garing. Mashed potatonya lembut dan kenyal, mungkin dicampur dengan galantine. Sosis platternya ada juga sosis yang warnanya putih. Tapi apakah itu sosis yang sama dengan sosis ala Munich? Gak tau juga. Yang jelas semua sosis punya rasa yang khas dan enak.

Satu porsi makanan itu harganya sekitar 12 Euro. Birnya 3 Euro kalau tidak salah. Satu gelas juga cukup untuk berdua, karena gelasnya tinggi dan besar. Si mbak pelayan yang lancar berbahasa Inggris itu, kami panggil kembali untuk minta bon. Dia memegang satu alat seperti EDC yang membantunya memesan makanan dan memprint bon langsung. Kami membayar dengan menyisihkan tips untuk si Mbak. Tips di Jerman is a must. Jumlahnya gede juga sekitar 10%.  Tagihan kami saat itu 36,5 Euro. Saya kasi 1 lembar 50 Euro dan minta kembalian 10 Euro. Jadi si mbak tahu, tipsnya 3,5 Euro.

Kami kembali lagi ke hotel masih dengan bus HOHO. Sempat mampir juga ke salah satu supermarket yang lumayan besar namanya “Aldi”. Kami membeli dalam jumlah banyak Knoppers untuk oleh-oleh. Knoppers sejenis wafer coklat kacang yang rasanya enak tapi harganya murah dan sangat enteng. Cocok buat dijadikan oleh-oleh makanan khas jerman buat kerabat di Jakarta.