Tips (abal-abal) Belanja di New York

Postingan saya tentang belanja di Paris dan belanja di London memang bukan tips shopaholic sejati. Namun tetap saja saya ingin share sedikit pengalaman belanja saya di New York City. Saran belanja saya tetap sama, yaitu banyak cuci mata, jangan kalap, tau harga di Jakarta sebelum beli, dan jangan buka dompet terlalu sering 😛

Sama seperti London dan Paris, New York City adalah pusat belanja dunia. Kemana pun mata memandang di segala penjuru kota, maka toko-toko dengan display yang cantik bertaburan di sana-sini. Kalau tidak kuat iman, meyakini bahwa kemampuan bayar saya jauh dari limit maksimal kartu-kartu kredit saya, maka pasti saya sudah belanja gila-gilaan.

Waktu kedatangan saya ke NYC di awal November, juga kurang tepat untuk belanja, dimana harga barang umumnya normal. Hari diskon nasional di Amerika yang dinanti-nanti adalah Black Friday yang jatuh di hari Jumat di akhir bulan November. Yah kira-kira beberapa hari setelah saya pulang lah … hiks. Jadi usahakan lah datang ke Amerika saat Black Friday yang menandai awal musim belanja masa Natal.

1. Belanja di Department Store

Macy’s adalah Dept. Store paling tuwir di USA. Berdiri sejak 1858, outletnya sekarang sudah 740 toko di seluruh USA. Macy’s di Midtown Manhattan yang dekat dengan hotel saya, adalah toko Macy’s yang pertama sekaligus yang terbesar. Saking besarnya, kami 3 sepupu yang hobby nyasar ini, gak ketemu-ketemu saat janjian di Macy’s. Saya masuk dari pintu Timur dia masuk dari Barat.

NYC_Macys

Senangnya saat mampir ke Macy’s saat itu karena tokonya sudah mulai dihias dekorasi natal. Masih jarang sekali menemukan dekorasi natal di pertengahan November. Namun dekorasinya baru ada di lantai satu saja. Mungkin lantai 2 sampai 9 menyusul bertahap, mengingat besarnya toko ini.

Masih satu owner, dept store terbesar kedua adalah tempat kerjanya Rachel Greene di film Friends, yaitu Bloomingdale’s.  Sudah tua juga umurnya karena berdiri tahun 1872, hanya beda beberapa belas tahun dengan Macy’s. Meski tempatnya tidak seluas Macy’s, tapi barang-barang di Bloomingdale’s lebih trendy dan high class. Saya tidak sempat mampir kesana, karena gak kepingin juga naik taxi khusus untuk ke Dept. store aja. Mahal pulak.

Tempat belanja barang branded yang lagi hip adalah Wesfield World Trade Center yang sudah diceritakan di postingan sebelumnya. Tempat ini pun saya datangi karena tidak sengaja. Si Bungsu sempat kepingin tas Kate Spade. “Nanti ya nak, beli sendiri kalau udah kerja,” bisik mak-mak yang gak punya banyak duit.

Sepengetahuan saya, tidak ada free tax claim di Amerika seperti di Eropa atau di Inggris. Jadi kalau cari barang murah memang harus pas ada diskon atau belanja di Premium Outlet.

2. Knick knack store

Karena pergi dengan teenager, maka toko printilan yang lucu-lucu seperti Disney’s Store di Times Square dan M&M World menarik perhatian si Bungsu. Termasuk juga Toko souvenir buat oleh-oleh seperti key chain, snow globe, magnet kulkas,yang banyak ditemui di sekitar times Square dan Broadway. Umumnya toko dikelola oleh orang India atau Timur Tengah, sedangkan barangnya buatan China. Harga bisa beda $2-$5 tiap toko, padahal kualitas barangnya sama. Hanya beda penataannya saja. Saya Cuma mampir untuk beli snow globe yang saya koleksi dari beberapa negara.

Sebenarnya saya tidak suka coklat Amerika, karena terlalu manis. Padahal kan saya sudah manis (jdiegz..) Coklat Amerika lebih tepat disebut gula dicoklatin daripada sebaliknya. Tapi melihat toko coklat M&M World di ujung jalan Broadway …lucuk banget. Langsung deh si Bungsu pengen beli coklat yang warnanya bisa dipilih untuk teman-teman perempuannya.

NYC_MnM

Jangan lewatkan ngeprint kata-kata khusus di atas coklat M&M. Bisa jadi hadiah yang sangat special buat orang terkasih. Si Bungsu membeli khusus buat guru yang melatihnya debat tapi tidak berangkat ke USA mendampinginya. Setelah membeli tiket di kasir, Ia memilih kata-kata yang diinginkan di mesin khusus, memilih warna coklat yang diinginkan lalu memasukkan coklat tersebut ke mesin printnya. Tunggu sebentar, voila… keluarlah coklat yg sudah cuzstomized printed.

Kalau M&M World terlalu girly, bisa mampir ke Disney’s Store di Times Square. Lho bukannya girly juga banyak princess? Nah ini lucunya. Toko Disney ini lebih banyak barang-barang Star Warsnya. Ada sih thema Frozen, tapi hanya di lantai 1. Sudah pengen banget beli robot bulet BB-8. Tapi kok ya gak pantes mak-emak beli itu ya.

NYC_starwars

3. Berburu Sepatu Sneaker

Banyak toko sneaker dengan design unik minimalis khas anak muda. Kalau niat dan punya banyak waktu untuk berburu sneaker di NYC, cobalah berkunjung ke Supreme di 274 Lafayette St, Niketown di 6 East 57th St, Vans General Store di 93 Grand St. Biasanya toko tersebut yang mengeluarkan model new release atau limited edition.

NYC_Champs

Jangan khawatir kalau gak banyak waktu, mampirlah di toko sepatu umum seperti Foot locker dan Champs dekat Time Square. Belilah brand asli Amerika seperti Vans dan Air Jordan. Selain harganya lebih murah, modelnya pun belum tentu ada di Indonesia. Kalau Adidas sih lebih mahal di Amerika daripada di Eropa. Jadi mampirlah kami ke Champs yang koleksi Air Jordannya lebih banyak, dan belilah sepasang Air Jordan buat si Bungsu dan oleh-oleh sepasang Air Jordan buat si Sulung di rumah.

4. Factory outlet

Adanya di pinggir kota, satu jam dari New York City yaitu Woodbury Common Premium Outlets. Karena memang tidak niat belanja, kami tidak mampir ke sana. Tapi di New York State masih banyak pilihan premium Outlet yang lain. Salah satunya adalah Waterloo Premium Outlet. Outlet ini tidak sengaja kami temukan dalam perjalan ke Niagara Falls. Kompleks pertokoannya sangat luas, sehingga dari pinggir jalan tol sangat menarik perhatian. Daftar toko/brand yang ada di sana bisa cek di sini. 

NY_WaterlooPO

Waterloo PO adalah kompleks pertokoan yang letaknya mengelilingi lapangan parker yang luas. Jadi saat berhenti di salah satu ujung, dan kepingin melihat toko yang disebrang, udah berasa capek duluan. Karena beda minat, saya dan kedua sepupu saya berpisah. Sepupu NY State lebih banyak mampir ke toko baju anak-anak. Sepupu Iowa, ntahlah dia kemana. Sedangkan saya hanya mampir di J.Crew, dan Nautica.

Belanjalah barang-barang yang originally berasal dari Amerika, seperti Coach, Nautica dan J.Crews. Brand Inggris seperti Clarks hanya mengeluarkan sepatu keluaran lama dengan nomor terbatas. Oh ya tidak semua toko menyediakan barang diskon. Seperti Zumiez harganya sama dengan outletnya di NYC. Tshirt cool dan funky menurut anak saya tapi uelek tenan menurut mata saya dengan harga yang bikin maknya mengeleus dada, 500-750ribu Rupiah.

Kalau sudah capek belanja, hanya ada satu area tempat makan dengan beberapa restoran. Meski sudah lewat jam makan, tapi tempat duduknya puenuh banget. Sekalian kalau mau ke toilet mampirlah di area ini. Kalau tidak keburu beser menuju toilet yang letaknya berjauhan.

5. Tempat Makan

Makan di kota New York sangat beragam. Mulai dari Foodtrucknya yang iconic sampai fine dinning. Tentulah kelas saya cukup makan yang kelas budgeted. Harga cheese burger meal di mcD sekitar $8. Kalau bosen dengan merk burger itu, cobalah Shake Shack, burger mantap yang selalu antre belinya, tapi masih sekitaran harga McD. Dagingnya lebih tebal, kentangnya juga potongan besar bukan yang shoestring cut. Lebih kenyang lah pokoknya.

NYC_shakeshack
Gambar diambil dari website resminya ShakeShack. Gak sempet moto, keburu laper…

Sebenarnya saya kepingin berburu makanan food truck. Tapi Food truck yang ngetop tidak juga jumpa sampai hari terakhir di NYC. Dapatnya Cuma yang abal-abal tapi lumayanlah buat menikmati makan ala Newyorkers  di Central Park.

7 Tempat Wajib Kunjung di NYC (Bag 2)

Setelah mengeksplor Times Square, Central Park, Bangunan tinggi dan nonton Broadway di sini, sekarang kita ulas bagian kedua.

5.Patung dan Monumen

Layaknya suatu kota besar yang mempunyai sejarah panjang, New York City mempunyai banyak sekali patung atau monument untuk mengenang sejarah kota. Patung yang paling besar dan menjadi icon kota New York, apalagi kalau bukan Patung Liberty. Bayak film Hollywood yang menjadikan patung ini sebagai scene utama. Diantaranya The Day After Tomorrow, Men in Black 2, Superman IV (diangkat boook patungnya …), X-man dan Ghostbuster 2 (patung Liberty kesurupan #LOL).

Patung yang menjadi symbol Kemerdekaan Amerika sekaligus monument selamat datang bagi para imigran, diberikan warga Perancis pada tahun 1886. Berhubung patung ini berada di sebuah pulau kecil tidak jauh dari Pelabuhan New York, maka perlu beli tiket masuk yang sekaligus tiket untuk naik ferry pulang pergi ke pulau. Ada beberapa website yang menunjukkan tempat pembelian tiketnya. Hati-hati penipuan karena tidak semuanya benar. Website officialnya adalah di sini.

nyc_liberty2.jpgHarus booking tiket online minimal 2 minggu sebelumnya, bahkan jauh sebelumnya bila high season, sebelum sold out. Maklumlah patung ini adalah salah satu destinasi utama para turis dan jumlah angkut ferry ke pulau terbatas. Harga tiket di website ada beberapa jenis dan semuanya sudah termasuk ferry. Beda harga hanya untuk membedakan seberapa tinggi kamu mau naik patung itu. Harga naik hingga ke Pedestal (Alas Kaki Patung) dan mengunjungi museum Liberty adalah $ 18.5/orang dewasa. Kalau mau naik hingga ke Crown (mahkota)nya  harganya $21.5. Tiket ke Crown jumlahnya jauh lebih sedikit, karena jumlah perharinya gak boleh bludak ntar patah crownnya. Jadi pesanlah jauh-jauh hari kalau kepingin sampai ke Crown. Dari Ground ke Pedestal bisa dicapai dengan lift. Tapi kalau ke crownnya masih harus lanjut naik tangga dari Pedestal sebanyak 162 anak tangga. Saya pesan tiket hanya sampai Pedestal saja, karena males naik tangga. Lumayan tinggi juga kok Pedestalnya dan cukup bagus pemandangan ke arah Manhattan.

Scam penjualan tiket Liberty tidak hanya di website saja, tapi hingga di Battery Park (pelabuhan pemberangkatan) pun banyak calo yang menawarkan tiket. Namun tidak ada petugas/polisi yang membubarkan para calo ini, yang gak jelas menjual tiket beneran dengan harga tinggi atau abal-abal. Hanya ada Petugas pemeriksaan karcis yang memperingati pakai toa bahwa hanya tiket resmi yang bisa naik kapal.

NYC_CruiseSepupu Iowa saya sempat khawatir, apakah saya yang dari Jakarta ini sudah membeli tiket yang benar. Saya sih yakin sudah benar, karena sudah cek di Tripadvisor. Namun saat kami antri naik kapal, kami diusir petugas. Lho kok? Tiketnya sih benar, tapi kami terlalu napsu mau naik kapal, jadi datang terlalu awal… hehehe.

Tips berpakaian kalau berkunjung ke Liberty di musim gugur apalagi musim dingin, pakailah baju berlapis, jaket yang lumayan tebal dan juga syal untuk menutupi leher. Meski suhu di awal bulan November hari itu menunjukkan 8oC tapi angin dingin yang bertiup kencang di pelabuhan, di atas kapal dan di Liberty Island, berasa seperti  di bawah 0oC. Sweater dan jaket medium saya tidak mampu menahan dinginnya angin. Mata pun menjadi perih karena terlalu kering, rasanya kelenjar air mata saya beku tersumbat es..hehehe. Jadi siap sedialah dengan kacamata hitam.

Selain berkunjung ke patung Liberty, harga tiket ferry juga termasuk untuk mampir ke Ellis Island. Pulau kecil ini merupakan gerbang masuk para imigran ke new York City di abad 18. Bahkan ada musium yang mendokumentasikan sejarah para imigran awal ini termasuk catatan nama-namanya. Will Smith pernah main film romantis “Hitch” dengan Eva Mendez di pulai ini. Mereka kencan ke Ellis Island naik jet ski lalu mampir ke musiumnya. Tapi saya lewatkan mampir ke pulau itu gara-gara saltum yang bikin dengkul ngilu bikin males jalan jauh. Maunya segera  mampir ke daratan New York.

NYC_LibertyMap

Dari Battery Park, anda bisa lanjut jalan kaki ke Charging Bull. Hanya perlu 5-7 menit. Patung banteng yang terbuat dari perunggu ini berada di pusat bisnis Wall Street sejak 1989. Kalau nonton film intrik pasar saham dan bisnis Amerika, biasanya ada scene aktor/artisnya melewati patung ini. Posisi banteng yang siap menanduk diasosiasikan sebagai optimisme keadaan finansial yang agresif di Amerika namun susah diprediksi. Charging Bull ini punya 2 kembaran. Satu ada di Amsterdam dan satunya lagi di Shanghai.

Yang menarik di depan Charging Bull ini ada patung seorang gadis kecil yang juga terbuat dari perunggu. Patung tambahan yang dinamai Fearless Girl ini baru ditempatkan tahun 2017. Patung yang tidak disukai oleh pembuat charging bull, katanya merusak arti si charging Bull, ditempatkan di sana untuk memperingati International’s Woman Day. Penempatan patung Fearless Girl pada 7 Maret 2017 disepakati hanya 11 bulan saja. Beruntunglah saya yang ke sana di November 2017 masih bisa melihat si gadis cilik ini sebelum dipindahkan. Walaupun sebenarnya patung ini tidak terlalu dihiraukan orang. Turis dari China yang datang bersamaan dengan saya saat itu hanya antri berfoto dengan si Banteng. Sedangkan patung gadis cilik ini lebih dipakai untuk senderan karena kecapean atau tidak sengaja menyundul bokong orang yang sedang mundur-mundur mengambil foto.

NY_Wallstreet

Dari Charging Bull kita bisa jalan sekitar 800 meter ke 9/11 Memorial. Sebenarnya hanya perlu 15 menit jalan kaki santai kalau tidak nyasar dan tidak kepingin pup di tengah jalan. Kenyataan yang kurang indah ditulis, tapi saat itu saya terpaksa belok dulu ke hotel bintang 5, New York Marriott. Dengan sok yakin saya masuk lobby dan langsung ngacir ke toilet.

NYC_skyline2
One World Trade Center

Karena salah arah juga, kami naik tangga ke atas gedung parkir yang ternyata ada taman kecil tempat spot bagus berfoto depan One World Trade Center, gedung tertinggi di New York. Kalau tidak naik ke taman di atas ini maka sulit mengambil foto gedung ini hingga terlihat ujungnya. Belakangan kami tahu nama taman ini adalah Liberty Park yang dibuka pada pertengan tahun 2016.

Karena nyasar itulah, kami baru sampai di 9/11 Memorial setelah 45 menit kemudian. Berbentuk taman besar yang hening, 9/11 memorial dihiasi dengan dua kolam besar yang dibangun di bekas menara kembar World Trade Center berdiri. Kolam dengan marmer hitam yang airnya terjun ke lubang besar bawah tanah ini menimbulkan rasa haru yang dalam saat kami berdiri di sampingnya. Membaca nama-nama petugas Damkar yang tewas saat peristiwa 9/11 yang mengenaskan, terukir rapi di tembok kolam, seperti membaca nama-nama di nisan taman makam pahlawan.

Di tempat-tempat yang memancing rasa haru seperti ini, saya biasanya tidak ingin berlama-lama. Ingatan tentang Amerika dan orang yang tewas mengenaskan, terlalu lekat dengan ingatan saya akan almarhum Ayah saya. Meskipun ada Guided Tour dan Musium yang ramai dikunjungi, tapi kami segera menyingkir dari sana, dan mencari stasiun kereta terdekat untuk kembali ke hotel.

NYC_911

Seorang petugas yang ramah menunjuk bangunan putih melengkung seperti tulang ikan sebagai stasiun kereta baru di area itu. Nama bangunan putih itu Oculus. Setahu saya belum ada film holywood yang mengambil scene di sini, karena Oculus baru dibuka untuk umum pada 4 Maret 2016.

NYC_Oculus

Oculus adalah transportation hub terbesar dan termewah di New York City, menggantikan  stasiun lama yang ikut hancur saat peristiwa 9/11. Hitam pekatnya suasana 9/11 Memorial sekejap langsung terganti dengan putih bersihnya bangunan Oculus baik di luar maupun di dalamnya. Kerennya bangunan ini membuat kami langsung foto-foto di depan pintu masuk.

Bangunan ini saking putihnya sampai susah menemukan hal-hal penting stasiun kereta pada umumnya, yaitu adanya ticket machine, jam dinding, dan rute kereta. Membuat kami kakak beradik sepupu yang gampang nyasar ini semakin nyasar. Apalagi toko-toko branded berbaris rapi di dalamnya. Westfield World Trade Center nama pusat perbelanjaan high end yang ada di dalam Oculus. Kami cukup window shopping saja sudah puas, sambil memegang erat dompet kami masing-masing.

6.China Town

Pecinan tersebar di semua kota besar di dunia. Namun pecinan di NYC yang terletak di area Manhattan terasa beda,karena tampilannya yang seperti negara dalam negara. Sebagai salah satu Chinatown tertua di negara barat, Chinatown Manhattan terkenal sebagai pecinan yang populasinya paling banyak di luar Asia.

NYC_ChinaTown2

Sambil nyasar-nyasar (again???) saat mencari tempat makan murmer no.1 terenak di NYC menurut versi Tripadvisor, saya seperti tidak sedang berada di Amerika. Tidak saja tulisan dalam aksara China mendominasi billboard dan siganage di sana, tapi juga karena brand mendunia seperti Mc Donalds, dan Citibank pun masih diterjemahkan dalam aksara China. Suasananya juga sangat khas. Deretan toko-toko juga pedagang kaki lima di trotoar memajang aneka hiasan khas China, baju cheongsam aneka warna, bebek peking yang digantung, bakpao panas yang masih ada di steamer, bumbu dapur khas makanan china (utamanya bawang putih), hingga barang fashion yang sepintas mirip barang branded.

Akhirnya tujuan utama kami ke Chinatown sampai juga, yaitu Nom Wah Tea Parlor. Kami tiba jam 11.30 menjelang jam makan siang, tepat sebelum rumah makan itu penuh. Karena lapar akibat kelamaan nyasar, kami sampai lupa foto makanannya sebelum disantap. Yah inilah foto seadanya yang sudah dimakan sebagian. Lumayan enak sih makanannya dan harganya cukup affordable. Tapi kalau dibandingin dengan Chinese food di Indonesia, tetap yang di tanah air rasanya lebih juara.

NYC_ChinaTownFood

Setelah perut kenyang, pikiran kami mulai lebih terang. Saat itu anak saya baru menyadari kalau restaurant itu adalah salah satu tempat shooting film Spiderman 2. Meski tidak terlalu yakin, kami foto-foto di depan rumah makan itu. Malah saya sempat berfoto sendiri dengan gaya buang muka seperti menunggu Spiderman. Sampai hotel kami browsing cari info, eh ternyata betul tempat itu dipakai shooting saat Peter Parker bertemu Gwen Stacy. Yeay …senangnya.

NYC_NomWahSpiderman

7.Musium

Saya selalu iri setiap berkesempatan mengunjungi musium di negara lain. Biasanya musium berada di tempat yang tertata dan terawat dengan sangat baik. Terispirasi dengan film Night in The Museum, saya sempatkan mampir ke American Museum of Natural History atau sering disingkat AMNH. Ada banyak musium bagus-bagus di New York City yang akan menghabiskan waktu seminggu kalau kami kunjungi semua.

NYC_AMNH2Harga tiket masuk ke AMNH adalah $28/orang dewasa untuk mengunjungi semua lantai plus bonus melihat 1 film 3D. Tiket online bisa dibeli di sini. Anda bisa dapat harga lebih murah kalau beli di tempat pada hari H. Tiket di tempat, bisa pilih lantai mana saja yang mau dikunjungi makanya harganya bisa lebih murah. Tapi siap-siap antri panjang, apalagi kalau waktu berkunjungnya barengan libur anak sekolah.

Sebenarnya saya senang berkunjung ke musium. Namun karena musium ini guede banget, lama kelamaan terasa bosan. Awalnya sempat norak-norak exited foto di sana-sini. Lama-lama capek. Sempat exited lagi saat masuk di area Budaya Asia. Lalu sedih karena tidak menemukan Indonesia di sana. Masak negara sekeren Indonesia sampai dilupakan sih. Males-malesan masuk budaya Pasific dan Australia eh … ternyata Indonesia masuk di jajaran negara kepulauan Pasific. Senang lagi deh mendengar gamelan jawa, alunan kolintang saat kita mengeksplor area Indonesia yang ternyata cukup besar.

NYC_AMNH

7 Tempat Wajib Kunjung di NYC (Bag. 1)

Berjalan-jalan di New York City serasa memasuki panggung Hollywood yang tiada tepi. Bagaimana tidak hampir setiap sudut kota pernah menjadi scene film Hollywood. Mulai dari jejeran apartemen biasa di film seri komedi “Friends” hingga film action fiction “King Kong” yg sedang memanjat Empire State Building.

Inilah beberapa tempat yang sempat saya kunjungi, termasuk juga yang sudah masuk list tapi tidak sempat dikunjungi.

1. Time Square

Time Square adalah pusat belanja yang menjadi destinasi turis seluruh dunia. Letaknya di area Manhattan Midtown. Cukup berjalan kaki dari hotel tempat saya menginap. Tepat sekali kalau tempat ini disebut sebagai Pusat Persimpangan Dunia, karena berbagai suku bangsa tumplek blek di sini. Saat kami berkunjung malam hari, tempat itu tidak terasa seperti malam karena banyaknya sinar lampu billboard berpendar menyilaukan. Konon semua gedung di area Times Square kudu wajib menutup dinding gedung dengan billboard berlampu. Foto pake HP jaman jebot seperti punya saya jadi susah karena efek backlight.

NYC_NYPD
NYPD di Times Square

Nama Times Square disebut saat harian New York Times pindah kantor ke area alun-alun (squares) tersebut pada tahun 1904. Gedung kantornya yang disebut Times Building sejak tahun 1907 menjadi area “Ball Drop” yaitu ritual rutin yang dilakukan kota New York setiap new year’s eve, untuk menandai pergantian tahun hingga sekarang.

Banyaknya film yang shooting di Times Square membuat saya selalu berseru “eh itu Time Square,” sambil menunjuk ke arah TV saat nonton film Amrik. Suami yang tidak ikut ke USA jadi bete. Sebutlah film seri Sex in The City, hingga film layar lebar New Year’s Eve, Spiderman 3, dan Enchanted, banyak mengambil scene di Times Square.

NYC_BecakBenarkah ada becak di Times Square? Beneran ada. Jumlahnya bisa dihitung jari dan tujuannya untuk atraksi turis. Becaknya lebih besar dan fancy, dan pengemudinya kebanyakan orang Asia. Meski dibayarin, saya gak kepingin naik becak itu. Kenapa? Kok rasanya gak aman, seperti turis yang kebanyakan duit sehingga dilirik kriminal NYC. Mending jalan kaki aja dengan baju yang biasa-biasa aja tidak mencolok. Apalagi kali ini saya hanya pergi dengan si Bungsu yang cewek dan sepupu cewek asal Iowa yang baru pertama kali juga ke NYC. Cari aman saja di kota metropolitan yang hingar bingar ini.

2.Central Park

Taman besar berbentuk persegi panjang seluas 341 Ha di tengah kota New York ini menjadi paru-paru kota sekaligus tempat New Yorker berekreasi alam dan olahraga. Taman kuno yang sudah ada sejak 1857 memang luas banget. Capek juga saya berjalan menyusuri pinggir taman saat keluar dari American Museum of Natural History menuju ke M&M World. Ya iyalah wong jaraknya dilihat di Googlemap sekitar 2.5 km. Padahal itu baru jarak ½ panjang Central Park.

NYC_CentralPark

Saat menyusuri taman, beberapa polisi terlihat berpatroli di dalam taman. Tidak heran karena Central Park termasuk the most dangerous place di NYC, terutama saat senja hingga malam hari. Banyaknya perampokan, pemerkosaan hingga pembunuhan terjadi di Central Park. Saat kami bertiga-cewek-cewek lewat situ, saya pun berasa ngeri juga padahal hari masih terang benderang. Tempat yang kami lalui kebetulan sangat sepi. Ada homeless tidur di hammock yang dikaitkan diantara pohon. Kami jalan bergegas dan hanya berfoto sebentar di suatu tempat yang sepertinya tempat shooting film Home Alone 2, dimana banyak merpati di bebatuan cadas.NYC_Squirell

Mengikuti gaya New Yorker di beberapa film, kami menyempatkan diri untuk lunch di Central Park. Ada banyak Food Truck di pinggir jalan. Ada hotdog, kebab, hingga nasi ala India tersedia di food truck. Kami makan di taman sambil ditunggui tupai yang menunggu remahan roti yang jatuh. Lucunya …

 

3.Gedung Pencakar Langit

Kota New York adalah hutan beton. Banyak gedung pencakar langit yang tingginya di atas lantai 30 bererot di jalan-jalan New York. Jumlahnya bisa lebih dari 100 gedung. Bukan main ya… Kalau tidak ada Central Park, maka jarang kita temui tumbuh-tumbuhan di NYC kecuali di Supermarket bagian vegetables.

NYC_skyline2
One World Trade Center

Kalau Suami ikut ke NYC maka ia pasti mewajib kami untuk naik ke salah satu gedung tinggi, menikmati view kota New York dari ketinggian. Gedung tertinggi di NYC bahkan di USA adalah One World Trade Center yang tingginya hingga lantai 104. Dengan ketinggian lebih dari ½ km, gedung yang termasuk baru dibangun ini (2014) merupakan gedung keenam tertinggi di dunia.

Gedung yang lebih lama dibangun (1931) dan terkenal karena film “Sleepless in Seatle” dan “King Kong” adalah Empire State Building. Makanya turis lebih banyak yang berkunjung ke sini. Harga tiketnya untuk naik ke lantai 102 yang disebut Top Deck adalah $57/orang. Atau bisa juga supaya irit namun pemandangan sudah cukup bagus, bisa mampir di Main Deck di lantai 86 saja, tiketnya lebih murah yaitu $37.

Berhubung saya tidak termasuk penggemar gedung tinggi, maka saya skip kunjungan ke salah satu gedung tersebut. Cukup foto depan gedungnya saja.

4. Nonton Broadway

Nonton musical production langsung di tempat asalnya di Broadway adalah salah satu tujuan utama saya ke New York. Saat sepupu Iowa menawarkan untuk membelikan tiketnya (bayar belakangan) saya langsung mengiyakan.

Ada 41 theater besar sekitar Times Square yang diakui sebagai tontonan berkelas ala Broadway. Tidak semuanya berjejer di jalan Broadway. Misalnya Miskoff Theater yang memainkan The Lion King, beralamat di 200 West 45th Street, di ujung 7th Avenue. Lihat pembagian jalan NYC di sini.

Sempat bingung memilih mau nonton “The Lion King” atau “Aladdin”. Bahkan si Bungsu sempat merengek mau nonton “Dear Evan Hansen” yang sedang hits saat ini dan reviewnya bagus. Kalau menurut saya sih mending nonton cerita Disney dulu deh sebelum nonton yang belum tahu ceritanya.

NYC_Broadway
Antrian The Lion King

Untuk pertunjukan jam 7 malam, penonton diwajibkan hadir paling lambat 30 menit sebelumnya. Antrian diluar gedung theater sudah cukup panjang saat kami tiba jam 18.30. Eh ternyata ada calo juga lho. Mereka berbisik-bisik menanyakan apakah kami sudah punya tiket. Para calo terutama mendekati turis yang berwajah Asia atau turis bule yang berbahasa non Inggris.

Posisi duduk kami tepat di tengah, sangat optimal secara audio maupun visual. Keponakan saya yang baru berumur 6 tahun mendapat bantal tambahan untuk duduknya. Sehingga Ia tidak tenggelam di kursi tertutup penonton di depannya.

Selama 2,5 jam kami terpukau oleh pertunjukan yang spektakuler. Tata lampu warna-warni, gelap terang yang luar biasa dipadu dengan panggung yang bisa naik turun dan background yang berbeda-beda untuk tiap scene. Tata suara untuk live orchestra (yang ada di bawah panggung) hingga sound effect terdengar tanpa cela. Bahkan pemain percussion untuk sound effect di kiri dan kanan atas panggung yang atraktif menjadi tontonan bonus buat penonton. Semua musik dan lagu dilakukan live bukan recorded!

Kostum para binatang juga meriah sekali dan pas menggambarkan pemerannya menjadi Gajah yang besar, gazette yang lincah, cheetah yang gemulai, hyena yang licik, hingga Mufasa yang gagah. Orang pemerannya tidak sepenuhnya terselubung kostum. Penonton masih melihat jelas orangnya. Namun kostum yang sesuai mampu menampilkan imajinasi penonton akan karakter setiap binatang yang diperankan. Saya masih kagum dengan pemeran Rafiki, si dukun kera dengan wajah dicat warna-warni. Pemerannya seorang wanita dari Afrika Selatan, terlihat lincah dan tengil dengan tubuh tambunnya saat menari dan bernarasi. Suaranya pun powerful banget saat bernyanyi. Saya aja yang cuma nonton rasanya ikutan capek.

nyc_lionking.jpg

All outnya pemain broadway saat berakting, menari dan bernyanyi, tak jarang membuat mereka melirik panggung yang lebih gemerlap, yaitu layar lebar Hollywood. Sebut saja Hugh Jackman, Meryl Streep, Sarah Jesica Parker hingga artis muda Anna Kendrick yang baru dapat Piala Oscar, adalah jebolan broadway yang sekarang sukses di layar lebar.

Bisa lihat cuplikan pertunjukan babak awal The Lion King di klik di sini. Saat seremoni kelahiran Simba, dimana binatang masuk dari arah penonton. Lebih megah liat pertunjukan aslinya sih. Penonton dilarang membuat video atau foto saat pertunjukan. Foto di atas adalah satu-satunya foto yang saya ambil diam-diam. Abaikan kepala orang yang ikut terfoto 😀


Bersambung …. Monumen (9/11 Memorial, Liberty< Charging Bull, dll), Tempat Khas (China Town, Little Italy, dll) dan Musium.

Memahami New York City, The Big Apple

Sepintas New York City mirip dengan Jakarta. Banyak orang stress dengan kemacetan, banyak gedung tinggi pencakar langit, tunawisma di sudut-sudut kota, pengamen di kendaraan umum masal … you name it. Bedanya hanya suhu dingin menggigit karena kami berkunjung di akhir musim gugur.

Saat keluar dari Penn Station, stasiun kereta utama NYC, setelah 1 jam perjalanan dari JFK, banyak homeless yang menghampiri kami. Bergantian dengan sales yang menawarkan city tour bis hop on hop off. Saya yang hanya berdua si Bungsu harus pandai-pandai mengelak dengan halus, berusaha tidak membuat mereka marah. Dua perempuan wajah Asia begini, tentu jadi sasaran empuk mereka. Apalagi kalau sambil celingukan, ciri-ciri khas new kids on the block. Kami berdua berusaha terlihat cuek dan tegar. Padahal dalam hati kangen dengan Suami dan si Sulung yang yang biasa mendampingi, kali ini tidak pergi bersama kami.

Sambil menarik koper menuju hotel kami yang jaraknya hanya 400m dari Penn Station, suara hingar bingar jalanan mengiringi perjalanan kami. Klakson kemarahan mobil-mobil. Sirene polisi dan ambulans bersahut-sahutan. Tak ketinggalan makian pejalan kaki ke pengendara mobil. Adegan seperti ini terlihat jamak di NYC.

“You son of a b*tch!!! “ maki si pejalan kaki yang hampir ketabrak mobil, sambil mengepalkan tangan. Bukannya beranjak segera ke troatoar karena mau ketrabak, eh malah melotot dulu di zebra cross.

“It’s green you idi*t!!! Move your dumb *ss out of here!” teriak si pengendara mobil sambil mengeluarkan setengah badannya dari jendela mobil lalu mengklakson berulang kali. Hadeuuh … terkaget-kaget pertama dengarnya. Saya serasa berada di salah satu scene film Hollywood. Yah inilah New York City my friend. Dingin dan kasar.

About The Big Apple

NY_StateMapSebelum lanjut ceritanya, perlu diketahui perbedaan New York State dan New York City (NYC). State mirip dengan Propinsi lah. Jadi ada Propinsi New York, yang ibukotanya adalah Albany, bukan NYC. Ibu Kota atau Pusat Pemerintahan Amerika Serikat adalah Washington DC, bukan juga NYC. Lalu NYC apa dong, kok ngetop banget? New York City adalah kota metropolitan terbesar dan terpadat penduduknya di USA yang ada di New York State. Sering juga disebut sebagai pusat bisnisnya Amerika, dan mendapat julukan The Big Apple, sejak tahun 1920. Masih misteri mengapa disebut Big Apple. Mungkin NYC seperti apel yang menggoda Adam dan Hawa (etimology asal …)

Memahami Jalan di NYC

Meski kesan awal NYC nampak hiruk pikuk, tapi ternyata kotanya mudah ditelusuri kok. Areanya terbagi atas blok-blok, karena ada Jalan vertical dan jalan horizontal yang melintasi kota. Jalan-jalan vertical letaknya memanjang dari Utara ke Selatan. Nama jalannya dimulai dari 1st Avenue sampai ke 12th Avenue. Jalan horizontal jumlahnya lebih banyak dengan jarak yang lebih pendek. Jalan horizontal yang berada di sebelah kiri Central Park disebut West Street. Dari mulai 1st West Street hingga 270th West Street. Hal yang sama berlaku di East Street yang ada di sebelah kanan Central Park. Selain itu ada juga jalan-jalan yang diagonal atau melintang dan tidak sesuai pakem jalan vertical-horizontal tersebut. Salah satu jalan diagonal yang terkenal namanya Broadway. Tau dong nama jalan itu. Terkenal karena musical dan theatricalnya yang mendunia.NY_StreetMap

Jangan bingung dengan kenyataan di lapangan. Kalau di Indonesia, plang nama jalan berada tepat di depan mulut jalan. sedangkan di Amrik, plang nama jalan ada di samping. Jadi kalau kita ada di perempatan dan menghadap depan suatu mulut jalan, maka plang yang ada di depan mulut jalan itu adalah nama untuk jalan yang melintang di depan mulut jalan tsb. Bingung euy jelasinnya ….observasi sendiri deh 😀

Mengenali jalur subway

Selain itu kota New York dikenal juga dengan pembagian area. Karena bentuk kotanya yang memanjang, untuk memudahkan, kota terbagi atas 3 area. Area paling atas yang sejajar dengan Central Park disebut Upper Side. Lalu bagian tengah yang banyak gedung-gedung pencakar langit disebut Mid Town. Lalu bagian bawah yang terkenal dengan Financial District disebut Lower Side. Dengan mengetahui pembagian daerah ini maka kita akan mudah mencari tahu jalur-jalur Subway.

Membaca peta subway NYC sebenarnya mudah tapi membingungkan. Nah loh…apa maksudnya? Jalur kereta ada yg dinamai dengan abjad (dari A s/d W) lalu ada yang dinamai dengan angka (dari 1 s/d 7). Lalu jalur kereta dengan nama yang berbeda warnanya bisa sama. Keder kan?

Penjelasannya dari hasil browsing begini. Jalur kereta pertama dibangun oleh Interborough Rapid Transit tahun 1904 dan menggunakan angka untuk tiap jalur kereta. Beberapa tahun kemudian ada perusahan kedua yang membuka jalur baru dan menamakan jalurnya dengan huruf/alphabet. Perusahaan kedua diakuisisi oleh perusahaan pertama dan bersatu menjadi New York City Transit. Namun perbedaan penamaan abjad dan angka tetap dipertahankan.

Lalu buat apa ada pembedaan warna di peta jalur kereta? Warna hanya menunjukkan daerah utama yang dilewati. Daerah utama itu bisa dilewati 3 sampai 4 kereta yang berbeda.

  • 8th Avenue (A, C, E) ~ blue
  • 7th Avenue (1, 2, 3) ~ red
  • Broadway (N, Q, R, W) ~ yellow
  • 6 th Avenue (B, D, F, V) ~ orange
  • Lexington Avenue (4, 5, 6) ~ green
  • 14th Street Crosstown (L) ~ gray
  • 42nd Street Crosstown (7) ~ purple
  • Brooklyn/Queens Crosstown (G) ~ light green
  • Nassau Street (J, M, Z) ~ brown
  • shuttles ~ black

Warna ini memudahkan saya yang kemampuan membaca petanya dibawah rata-rata. Saya cukup mengingat untuk naik kereta blue line (warna favorit saya) untuk sampai ke hotel yang ada di dekat 8th Avenue.

Sedemikian detail saya mempelajari peta NYC karena my darling live GPS, alias Suami, tidak ikut bepergian. Sedangkan sepupu yang menemani saya selama di US nanti, yang satu tinggal di Iowa dan belum pernah ke NYC dan satu lagi tinggal di NY State dan baru sekali ke NYC sekitar 8 tahun yang lalu. Daripada nyasar barengan, paling tidak saya harus lebih tahu lah.

Sepupu saya yang dari Iowa baru muncul beberapa jam kemudian setelah saya check in hotel. Berhubung kecapean dengan perjalanan panjang dari Jakarta, saya langsung ketiduran blek sek setelah mandi. Sepupu saya butuh waktu lama juga untuk proses membangungkan saya dan si Bungsu. Dari mulai nelpon ke HP, ketok-ketok pintu dan baru sadar setelah telpon di kamar berdering.

Ah senangnya ketemu lagi dengan salah satu sepupu yang lumayan dekat saat masa kecil dan remaja. Setelah menghabiskan waktu dengan cerita panjang lebar melepas kangen akhirnya kami memutuskan jalan kaki ke Times Square, sekaligus cari makan malam. Lega juga saat si Sepupu nampak lebih siap dengan googlemap di IPhonenya. Wah gak bakal nyasar nih kita. Namun ternyata oh ternyata, saat membaca peta, dia garuk-garuk kepala juga untuk memutuskan apakah kita belok kanan, kiri atau terus. Hahaha …ternyata difficulty in reading map is running in our family. Untunglah si Bungsu masih turunan Bapaknya yang mudah membaca peta. Jadilah dia yang menentukan, “We should turn left, Tan.”

NY_Timesquare
Sampailah kami tanpa nyasar di Time Square dengan berjalan kaki.

 

Bandara JFK yang tidak rumit

Saya mengawali tulisan ini dengan tips. Untuk perjalanan pesawat yang lama (lebih dari 20 jam), pastikan anda minta sikat gigi ke pramugari. Efek tidak sikat gigi saat di udara akan terasa lapisan gigi yang “lebih tebal” daripada saat kita tidak sikat gigi di darat.

Pagi itu pesawat berbadan lebar Airbus 380 mendarat mulus di Bandara JFK New York. Mood saya cerah ceria melihat New York pertama kali dari jendela pesawat. Ditambah dengan perut yang sudah kenyang sarapan, gigi sudah bersih, bahkan sudah cuci muka dan bedakan, membuat saya tak henti-hentinya bersyukur padaNya.

Continue reading “Bandara JFK yang tidak rumit”