Lima Menit yang Terasa Lambat

Beberapa waktu lalu, saya membaca pengalaman wartawan Kompas saat di Mapolda Riau. Ketakutan yang ia tuliskan, sangat terasa dari judul artikelnya, “Menjalani 5 Menit Terlama”. Gambaran kepanikannya saat ia harus berpikir cepat di tengah kekacauan, seperti ikut saya rasakan. Apalagi saat ia tak sengaja berhadapan muka dengan teroris yang akhirnya ditembak mati Polisi beberapa detik kemudian. Ingatan saya melayang ke beberapa peristiwa yang pernah saya alami, meskipun tidak sengeri pengalaman sang wartawan.

Pengelaman pertama saya, terjadi saat saya masih kecil. Meledaknya gudang amunisi Cilandak pasti dirasakan anak-anak Jakarta Selatan angkatan 80an. Awalnya letusan beruntut itu tidak menakutkan saya, karena rasa aman berada di tengah-tengah keluarga. Namun saat orangtua menjadi panik, maka kepanikannya menular ke anak-anak. Adik saya mulai menangis. Berita bolongnya atap umah tetangga sebelah karena ledakan mortir, membuat kami semakin panik, sehingga ortu memutuskan kami mengungsi segera ke rumah saudara di Jakarta Pusat. Seperti pengungsi perang rasanya saat kami bergegas masuk ke dalam mobil dengan membawa barang seadanya.

Emosi orangtua di saat emergency seperti itu, sangat dirasakan anak-anak. Itu terjadi saat hanya berdua dengan si Sulung di Jerman. Januari 2016, kami sedang santai-santai hendak berbelanja kebutuhan sehari hari. Naik kereta subway di bawah tanah, menyebabkan kejadian di permukaan tanah tidak kami ketahui. Makanya kami kaget setengah mati, saat menuju pintu keluar Haupbahnhof (Stasiun kereta utama) dekan Koln Dom, karena depan pintu sudah parkir belasan mobil polisi mengarah kea rah stasiun. Beberapa polisi yang bersentaja lengkap dan memakai rompi anti peluru memberi perintah dalam bahasa Jerman, yang tidak kami mengerti sama sekali. Terpaksa kami masuk kembali ke dalam stasiun.

Saat itu saya berpikir cepat, apakah di dalam stasiun lebih aman daripada di luar? Mengingat polisi mengarahkan senjatanya ke dalam. Terpaksa saya memberanikan diri bertanya kepada seorang Ibu dalam bahasa Inggris. Syukurlah si Ibu mengerti. Katanya polisi sedang mengantisipasi kedatangan imigran illegal dalam jumlah besar. Saat itu memang Angela Markel, Kanselir Jerman belum memberikan sikap jelas kepada imigran.

Berhubung kelompok yang sedang dihadang polisi akan datang dari arah dalam (stasiun kereta), maka saya memutuskan segera keluar dari stasiun. Terpaksa saya mencolek seorang polisi terdekat, bertanya apakah kami boleh lewat. Dengan bahasa Inggris sepotong-potong, Ia menjelaskan supaya saya berjalan memutari polisi, jangan menerobos ke tengah-tengah. Ok deh. Segera kami melipir di tengah rintik hujan yang dingin di bulan Januari. Sikap saya mulai santai. Bahkan sempat memotret rombongan polisi yang baru datang dan sedang bergegas keluar dari mobil.

Lega rasanya bisa melewati keriuhan polisi itu. Namun jalan memutar yang kami lalui, ternyata mengarah ke tempat sepi dimana segerombolan orang berbaju hitam-hitam, laki-laki dan perempuan berwajah timur tengah sedang duduk merunduk menahan dingin. Terus terang saya kaget, sedikit takut dan kasihan juga. Apakah mereka termasuk yang dicari polisi? Berapa lama waktu yang dibutuhkan kalau harus lari menuju polisi bila tiba-tiba mereka menjadi anarkis? Apakah kami sempat lari? Tanpa sadar saya menggenggam erat lengan si Sulung dan mempercepat langkah. Rupanya si Sulung merasakan kepanikan saya, ia hanya berucap tenang dalam bahasa Indonesia, “Jangan diliatin Ma, dan jalannya santai aja gak usah terburu-buru,” Saya mengambil napas panjang dan berusaha berjalan lebih santai. Mata bulat besar dengan bulu mata panjang yang dari tadi mengawasi kami dengan curiga, sepertinya sedang ketakutan juga. Bukan sedang hendak melawan. Saya memalingkan wajah, karena tiba-tiba keharuan menyesakkan dada saya.

Koln_Polizei

Pengalaman berikutnya, masih hanya berdua dengan si Sulung, saat kami sedang dalam perjalanan dari bandara Schipol, Belanda, menuju kota Koln, Jerman. Persis di samping saya, dipisahkan oleh gang, duduklah seorang lelaki berbadan kurus, berkulit hitam, berjaket lusuh, duduk dengan gelisah. Matanya kerap melirik ke arah pintu kereta dan sempat tidak sengaja bertabrakan pandang dengan saya. Saya langsung waspada, dan si laki-laki itu langsung mengalihkan pandangannya ke jendela. Dalam hati saya berdoa mohon lindunganNya.

Kereta cepat ICE memasuki wilayah Jerman, ketika masuk 3 tentara Jerman bertubuh tinggi besar, yang harus agak menunduk saat melewati pintu kereta. Tingginya pasti mendekati 2m. Seorang diantaranya perempuan yang tidak kalah tegapnya dengan rambut sebahu yang dikucir satu. Ketiga tentara ini mengecek kartu ID atau passport. Setahun sebelumnya saat ke Jerman sekeluarga, pemeriksaan passport dilakukan oleh seorang petugas kereta. Mengapa sekarang harus bertiga? Bawa senjata pulak.

Saya melirik laki-laki di samping saya yang menaikkan jaket retsletingnya hingga ke dagu. Mungkinkah ia menyembunyikan sesuatu di balik jaketnya? Terlihat ia semakin panik. Bingung mau kabur udah gak sempat, mau coba tenang gak bisa. Akhirnya ia memalingkan wajahnya ke jendela. Saya sempat berpikir, jangan sampai dia panik, lalu bertindak nekat menjadikan saya tamengnya. Meskipun saya jauh lebih gendut, belum tentu lebih kuat, apalagi kalau dia bawa senjata. Saya berbicara kepada si Sulung supaya waspada. Tentunya dalam Bahasa Indonesia.

Ketiga polisi itu tanpa senyum menanyakan passport kami, menanyakan kami mau kemana dan menginap dimana, dan diminta menunjukkan bookingan hotel (tumben…). Semua dokumen ada dan siap di tas saya. Petugas pria ini, menyerahkan semua dokumen saya dengan senyum, dan segera menghampiri rekannya yang nampak kesulitan menghadapi penumpang di samping saya. Si penumpang hanya menggelengkan kepala, walaupun bahasa yang disampaikan petugas sudah berubah dari bahasa Jerman ke Inggris. Dia hanya menjawab dalam bahasa asing yang tidak diketahui. Tidak ada satu dokumen pun yang bisa ditunjukkan yang menunjukkan identitasnya atau tujuannya datang ke Jerman. Senapan si petugas wanita sudah mengarah ke si penumpang, saat petugas laki-laki menggeledah jaket dan kemudian tasnya. Sebelum situasi makin memanas dan menjadi gawat, si penumpang digiring keluar gerbong. Interview dilanjutkan di depan toilet dekat pintu keluar. Lega rasanya saat drama itu menjauh dari sisi saya. Meskipun masih terdengar bentakan petugas, tapi paling tidak sudah gak di dekat saya lagi.

Masih mending kejadian itu masih ada anak laki-laki yang mendampingi. Kejadian huru hara terakhir, saya hanya sendirian. Kejadiannya di New Haven, USA bulan November 2017. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, dimana taxi yang saya hentikan di pinggir jalan tidak ada yang mau berhenti. Sambil merapatkan jaket, saya berjalan mencari tempat yang lebih terang dan banyak orang. Saya merasa, beberapa homeless yang duduk di kursi taman memegang botol bir kosong sudah memperhatikan gerak-gerik saya. Makanya saya senang sekali saat melihat beberapa polisi yang sedang berjaga.

Saya hampiri salah satu polisi yang kelihatan tidak terlalu sibuk. Sekalian saya bertanya ke pak Polisi, bagaimana caranya memangil taxi, karena dari tadi kok gak ada yang mau berhenti. Pak Polisinya ternyata ramah sekali. Ia menjelaskan di sini kalau manggil taxi gak bisa dari pinggir jalan seperti di New York. Harus telpon ke armada taxinya. Karena mengetahui saya hanya turis, ia menawarkan untuk memanggilkan taxi untuk saya pakai HPnya. Waah …saya sangat berterimakasih sekali ke Pak Polisi. Setelah selesai telpon, ia menjelasakan bahwa 8-10 menit lagi taxinya datang, yang warna biru. Tapi belum selesai dia bicara, keluarlah segerombolan orang dari gedung di depan kami, diiringi dengan jeritan panik perempuan. Tidak beberapa lama terdengar letusan senjata, pecahan botol, dan teriakan polisi melalui toa. Barulah saya ngeh, polisi yang saya temui tadi memang sedang berjaga-jaga di depan gedung pertunjukan untuk mengantisipasi kerusuhan seusai pertunjukan suatu band. Kaget dengan kejadian yang mendadak, saya malah freeze di tempat nonton kejadian di depan mata. Terlihat seorang laki-laki berjalan terhuyung-huyung sambil memegang kepalanya yang berlumuran darah. Persis seperti kejadian di film action Holywood. Saya baru sadar setelah polisi yang membantu saya tadi berteriak, supaya saya berlari menuju ujung jalan, melewati barikade mobil polisi, menuju tempat yang aman. Barulah sadar ini bukan kejadian film, dan saya harus segera menyingkir dari situ.

Hadeuh ada-ada saja. Di ujung jalan sudah banyak kerumunan orang. Sebagian berasal dari gedung theater itu sebagian lagi bergerak mau menonton. Saya fokus dengan taxi yang sudah dipesankan pak Polisi. Tapi karena beberapa jalan sudah diblokir, arus lalin jadi berubah. Saya bingung sendiri, bagaimana menandai taxi saya. Saat satu taxi biru berhenti dan saya siap menghampiri, eh seorang laki-laki menyerobot masuk, dan hanya bilang “sorry”. What? Kemana lagi nih saya harus nyari taxi. Terpaksa saya harus berjalan lebih jauh lagi sampai menemukan hotel besar dengan brand international. Nekat saya masuk lobby, minta tolong dipanggilkan taxi. Jam 22.30 saya menggigil kedinginginan di teras hotel menunggu taxi datang. Masih mendinglah kedinginginan, yang penting jauh dari kerusuhan. Dan Puji Tuhan malam itu saya tiba dengan selamat di hotel saya.

Perjalanan Kereta ke Inggris Pasca Brexit

Pada akhir Desember 2016, kami sekeluarga melakukan perjalanan kereta dari Cologne, Jerman menuju London, Inggris. Awalnya kami mengira perjalanan kereta antar negara di Eropa ini tak jauh beda dengan perjalanan kereta kami sebelumnya ke Budapest dan ke Praha. Dimana Vini-Vidi-Go berlaku. Kudatang ke stasiun, kulihat keretanya dan berangkaaaat. Kami lupa atau tepatnya mengabaikan fakta bahwa Inggris termasuk Europe Union (EU) tapi tidak termasuk dalam Schengen Countries.

Saat membeli tiket kereta secara online di perusahaan kereta Jerman  saya sempat heran dengan transit time yang lumayan lama (77 menit) di Brussels. Saya kaget juga dengan harganya yang mahal 70 Euro/orang untuk second class (Saya selalu terkesiap dengan harga mahal…) Berarti saya harus membayar 280 Euro untuk 4 orang atau setara dengan 4 juta Rupiah atau setara dengan budget Airline Jakarta Surabaya pp.

Continue reading “Perjalanan Kereta ke Inggris Pasca Brexit”

Membiarkan Anak Rajawali Mengepakkan Sayapnya

Catatan: Berikut ini bukan catatan perjalanan, tapi catatan hati seorang Ibu di perjalanannya dari Cologne ke Amsterdam.

Persiapan untuk si Sulung sekolah di Jerman sepertinya sudah beres. Sehari sebelum pulang, saya melakukan re-check dengan si Sulung apalagi yang harus dia lakukan. Mulailah beberapa wejangan keluar. Seperti jangan lupa deadline perpanjangan visa. Hati hati dengan passport. Jangan lupa langsung urus health insurance. Hati-hati dalam bergaul. Selalu dekat dengan Tuhan dan ke gereja setiap minggu. Dan masih banyak lagi.

Continue reading “Membiarkan Anak Rajawali Mengepakkan Sayapnya”

Persiapan Anak Sekolah di Jerman (Saat tiba di Jerman)

Dengan direct flight Garuda Jakarta – Amsterdam kami tiba di Schipol jam 8.15. Proses imigrasi dan pengambilan bagasi berlangsung cepat dan lancar. Setelah itu lanjut naik kereta ke Cologne atau Koln, Germany. Tiket kereta saya beli 3 bulan sebelumnya secara online di www. Bahn.de seharga 19 Euro.

Tiba di Cologne masih cukup siang. Udara dingin bulan Januari langsung terasa di wajah dan telapak tangan yang tidak dilindungi penghangat. Setelah check in di apartemen mini yang dikelola oleh seorang ibu Jerman berbadan besar, kami langsung memutuskan untuk belanja di Supermarket terdekat.

Continue reading “Persiapan Anak Sekolah di Jerman (Saat tiba di Jerman)”

Persiapan Anak Sekolah di Jerman (Sebelum Berangkat)

“Ma…aku ketrima student exchange ke Jerman. Berangkatnya awal Januari,” demikian laporan si Sulung santai tanpa beban, seperti mau pergi ke Bogor. Saya melongo membayangkan persiapan yang kurang dari 4 bulan. Langsung browsing secepat kilat ke blog anak-anak Indonesia yang sekolah di Jerman membantu persiapan si Sulung. Sementara si sulung sibuk mengejar dosen untuk mencocokan mata kuliah yang bisa diambil di Jerman, lalu lanjut sibuk dengan UTS.

Untunglah info mengenai persiapan studi di Jerman cukup beragam dan ada yang sangat detail penjelasannya. Tapi saya tidak menemukan info studi di Jerman untuk exchange selama 1 semester seperti kasus si Sulung. Sehingga persiapan yang kami lakukan hampir sama dengan yang mau sekolah 4 tahun.

Continue reading “Persiapan Anak Sekolah di Jerman (Sebelum Berangkat)”

Membuat Visa di Kedutaan Jerman

Bisa dibilang, Kedutaan Jerman adalah Kedutaan yang paling sering dikunjungi oleh keluarga kami. Jenis visanya pun bermacam-macam. Sehingga pengalaman yang kami dapatkan pun beraneka rupa.

Satu tips untuk apply visa di kedutaan Jerman adalah, selalu jadikan website resminya sebagai panduan untuk melihat syarat-syaratnya. Infonya sangat jelas dan sudah ditulis dalam Bahasa Indonesia. Syarat tersebut bisa berubah, tergantung situasi politik ekonomi Jerman. Agen yang membantu pembuatan visa hanya membantu anda membaca dan memahami syarat di web. Kalau anda merasa cukup cerdas untuk membaca, maka pembuatan visa bisa dilakukan sendiri. Kedutaan Jerman tidak pernah menunjuk satu agen pun untuk membantu mempermudah atau mempercepat pembuatan visa. Continue reading “Membuat Visa di Kedutaan Jerman”

Munich (3) yang Kekinian

Kami meneruskan perjalanan ke Olympic Park. Bis hop on hop off dengan tour guide si Oma sudah ganti dengan bis yang lain. Perjalanan hanya 15 menit menuju kompleks olahraga tersebut. Dalam jarak yang tidak terlalu jauh, masa kejayaan kuno Munich yang tercermin dari Istana Nymph, sudah diganti dengan kejayaan Munich masa kini yang modern. Meskipun Olympic Park dibangun tahun 1972, tapi arsitektur bangunan dan tamannya nampak modern.

Mun_bmwmap
Rute shuttle bus

Dalam kompleks tersebut terdapat  Olympic Stadium, Olympic Tower, Sea Life Aquarium, yang dapat dicapai dengan berjalan kaki. Bisa juga nyebrang ke samping kompleks melihat BMW World dan Musium BMW yang design bangunannya mencerminkan teknologi tinggi. Suami memutuskan nanti saja berjalan-jalan di area itu. Ia lebih mementingkan mendatangi Alianz Arena. Jadi kami segera naik shuttle bus lain yang khusus mengantar kami ke markas Bayern Munchen.

Sepuluh menit naik shuttle, nampaklah bangunan Alianz Arena yang khas itu. Tidak terlihat beton atau besi pada dinding luarnya, seperti stadion bola pada umumnya. Ada lapisan semacam plastik menutupi seluruh dinding luar yang memungkinkan stadion berpendar aneka warna di malam hari. Suami dan si Sulung terlihat sangat antusias, seperti pemain bola yang sudah tidak sabar akan bertanding.

Shuttle bis berhenti tepat di depan pintu gerbang stadion. Di bawah teriknya matahari dan suhu 35oC saat itu, kami berjalan menuju stadion. Di luar gedung kelihatannya sangat sedikit turis yang datang. Setelah masuk ke pintu utama, ternyata manusia semua isinya. Dalam ruangan ini, sebagian besar pengunjung sedang antri tiket masuk, sebagian lagi makan di food court.

Mun_AlianzArena

Tiket terdiri atas 3 jenis. Tiket museum + recorded guide seharga 12 Euro. Tiket stadion + live guide tour seharga 10 Euro. Atau kalau mau keduanya, pilih Tiket combo seharga 19 Euro. Tentunya harga tiket anak dan tiket grup beda lagi harganya. Suami ingin sekali ikut Tour ke Stadion. Sedangkan si Sulung ingin ke musiumnya. Saya dan si Bungsu tidak ingin ikut kedua tour. Buat apa bayar mahal cuma untuk liat lapangan rumput di stadion atau piala-piala bola di Musium, pikir saya. Tapi dipikir-pikir lagi daripada bengong nungguin, ya udah lah ikut aja sekalian. Setelah rapat keluarga singkat, akhirnya diputuskan kami semua ikut Tour ke Stadion.

Beres beli tiket, kami menunggu tour yang baru akan mulai 40 menit lagi dengan makan siang di foodcourt. Tidak banyak pilihan makanan di sini. Hanya ada sandwich dan sosis dengan rasa standar nyaris gak enak. Harga makanan masih normal sekitar 4 Euro, tapi harga minumnya mahal banget 2,5 Euro.

Ternyata semua orang yang makan di foodcourt adalah orang yang mau ikut Tour Stadion. Tournya memang dimulai di tempat makan ini. Masuklah sekitar 5 orang guide berbaju olahraga, membagi kerumunan orang itu dalam kelompok kecil berisi 40an orang. Setiap grup dipimpin oleh seorang tour guide, memulai tour dengan awal yang berbeda-beda.

Grup kami dipimpin oleh seorang tour guide laki-laki turunan Afro-Europian yang sangat energik dengan suara lantang terdengar oleh semua anggota. Beruntung sekali dapat guide ini. Kalau lihat grup lain ada yang guidenya sudah opa, ada juga yang guidenya wanita cantik tapi suaranya kurang keras.

Mun_insidestadion

Anggota grup terdiri dari berbagai Bangsa, Bahasa, umur, pokoknya beragam sekali. Keluarga kami satu-satunya yang berwajah Asia. Rute pertama adalah masuk stadion. Dijelaskan macam-macam jenis kursi di stadion berdasarkan harga tiket paling murah dan tiket seharga rumah mewah di Jakarta. Mengapa orang rela membayar tiket segitu mahal untuk nonton bola? Ia menjelaskannya dengan suatu situasi dalam pertandingan bola, dimana pemain bola yang kita jagokan tiba-tiba memasukkan goal di detik akhir pertandingan. Ia menanyakan bagaimana kami akan bereaksi. Sontak kami berteriak “Goal” dengan sangat kencang. Teriakan ini diadu berkali-kali hingga kami mendengar terikan gila paling keras yang bisa kami buat. Dengan tenang guide itu berkata,”Grup ini tidak sampai 50 orang, tapi suaranya sudah terdengar keras dan seru. Bayangkan bila ratusan ribu penonton berteriak seperti ini, dengan merasakan emosi yang sesungguhnya … Keseruan yang tidak terbayar harganya!” Wow….benar juga. Eh tapi saya sih mending uangnya buat beli rumah.

Selanjutnya kami dibawa mendekati lapangan rumput. Dijelaskan bagaimana stadion ini dirawat dengan teliti dan seksama. Betapa mahalnya merawat rumput tok, agar sesuai dengan standar internasional. Lalu kami digiring masuk ke ruang ganti para pemain bola tuan rumah Bayern Munchen, ruang ganti pemain tamu, ruang kedatangan para pemain saat turun dari bis, hingga ruang press conference.

Mun_ruangganti

Semua rungan diceritakan dengan detail dan seru sehingga kami bisa membayangkan bagaimana keadaan sebenarnya. Perlahan saya terbawa suasana menyenangi tour ini dan merasa sudah menjadi pencinta bola. Klimaksnya adalah saat kami dibagi menjadi 2 baris, seolah-olah kami dua team sepak bola yang akan bertanding. Kami masuk ke suatu ruangan dimana biasanya kedua team yang akan bertanding pertama kalinya saling bertemu muka. Diiringi reffrein lagu UEFA Champions League Anthem yang megah, kami benar-benar merasakan serunya suasana pertandingan yang penuh persaingan tapi sportif. Hiiih jadi merinding….

Tour diakhiri di luar stadion, dimana guide menjelaskan lapisan luar stadion yang terpuat dari panel plastik khusus. Dijelaskan bagaimana panel berpendar di malam hari, bagaimana teknologi plastik itu ditemukan, dan mahalnya biaya perawatan. Potongan plastiknya ditunjukkan dan diedarkan ke seluruh grup. Tour diakhir dengan kesan yang mendalam dan kami segera bubar. Kami menyempatkan mampir ke toko souvenir Bayern Munchen dan membeli sesuatu untuk kenang-kenangan.

mun_bmwmuseum.jpg

Shuttle bus membawa kami kembali ke Olympic Park. Kami memutuskan tidak akan berjalan-jalan di arena olahraga lagi. Kami memutuskan untuk ke Musium BMW, yang gedungnya nampak keren dan hi-tech. Jalan dari bus stop ke musium sebenarnya tidak terlalu jauh. Tapi heatwave yang sedang melanda benua Eropa cukup ampuh membuat kami kepayahan. Kami merasa semakin “lemas” saat melihat harus beli tiket masuk lagi. Harga tiket perorangan 10 Euro. Kami membeli tiket untuk keluarga 24 Euro, untuk 2 dewasa dan 3 anak dibawah 18 thn. Terus terang pengeluaran membeli tiket ini unbudgeted hehehe…mikirnya gratisan melulu sih.

Musium BMW berisi replika berbagai produk BMW mulai dari motor, mesin pesawat, mobil, hingga yacht berikut sejarahnya. Penjelasan ditulis dalam 2 bahasa, Inggris dan Jerman. Entah karena capek atau memang gak terlalu minat ke museum ini, saya tidak ingin berlama-lama di sini. Sebaliknya, anak-anak sih seneng-seneng aja. Malah masih mau lanjut berrjalan ke gedung sebelah menuju BMW World. Tempat ini berisi mobil BMW keluaran terbaru. Ada juga Mini Cooper dipamerkan disitu.

Mun_BMW

Kaki saya sudah cenut-cenut rasanya saat menuju bus. Ditambah dengan panasnya udara saat itu, membuat saya dehidrasi dan tidak lagi terlalu menikmati tour selanjutnya di dalam kota. Kami menikmati saja dari jendela bis, sisa rute hari itu. Sambil mendengarkan penjelas tour guide.

Melewati Schwabing  dan English Garden, terlihat banyak sekali orang Jerman yang berjemur dengan pakaian renang di pinggir sungai yang mengering, gak ada indah-indahnya. Kalau kami si orang tropis ini kepayahan dengan teriknya matahari, mereka malah bersukacita menjemur diri menikmati sinar matahari yang berlimpah. Pantesan mereka melotot kalau ke Bali. Pemandangan sungai yang mengering dibandingkan dengan pantai-pantai di Indonesia nampak jauuuuh banget keindahannya. Bagai langit dan bumi.

Kami tidak mampir di Pinakotheken, karena sudah lelah untuk masuk musium lagi. Kami juga melewati saja Odeonsplatz dan Max-Joseph-Platz. Terus terang saya tidak bisa membedakan ketiga tempat itu karena bentuknya mirip-mirip. Kami memutuskan berhenti di Marien Platz untuk mencari makan malam.

Sebenarnya masih terlalu sore untuk makan malam. Tapi kami sudah berencana makan makanan khas Munich yaitu Weißwurst, sosis putih yang disajikan dengan mustard manis dan pretzel. Salah satu tempat yang direkomendasikan oleh Tripadvisor adalah Weisses Brauhause. Lokasinya dekat dengan bus stop bis HOHO, persis di pojokan jalan. Depan restaurant ada meja kursi di bawah payung besar. Kami lebih memilih masuk ke dalam restaurant, supaya lebih adem dan agak kosong. Biar bule-bule yang nyari matahari aja yang duduk di luar.

mun_weissesbrauhaus.jpg

Seorang pelayan cantik berbadan tinggi besar menyambut kami dengan ramah. Betapa kecewanya kami saat hendak memesan Weißwurst, makanan itu hanya disajikan untuk sarapan. Setelah lonceng gereja berdentang 12 kali pada siang hari, maka sosis itu tidak dihidangkan lagi. Seperti Cinderela kesiangan, kami merasa bodoh karena tidak browsing dulu mengenai hal ini. Si mbak pelayan dengan ramahnya menawarkan makanan lain yang katanya masih khas Munich. Kami setuju dengan sarannya, jadi kami memesan 1 pork knuckle dan 1 sosis plater. Kami minta piring kecil untuk sharing makanan, karena saat ini belum jam makan malam, masih belum ingin makan banyak. Tidak lupa kami pesan juga bir dingin non alcohol.

mun_food.jpg

Saat pesanan dihidangkan, ternyata porsinya besar sekali. Untung kami hanya memesan 2 porsi. Porsi itu lebih dari cukup sebagai porsi makan malam kami berempat. Sampai begah kami menghabiskannya. Bagaimana dengan rasa makanannya? Enyak sekali. Pork knuclenya gurih dan kulitnya garing. Mashed potatonya lembut dan kenyal, mungkin dicampur dengan galantine. Sosis platternya ada juga sosis yang warnanya putih. Tapi apakah itu sosis yang sama dengan sosis ala Munich? Gak tau juga. Yang jelas semua sosis punya rasa yang khas dan enak.

Satu porsi makanan itu harganya sekitar 12 Euro. Birnya 3 Euro kalau tidak salah. Satu gelas juga cukup untuk berdua, karena gelasnya tinggi dan besar. Si mbak pelayan yang lancar berbahasa Inggris itu, kami panggil kembali untuk minta bon. Dia memegang satu alat seperti EDC yang membantunya memesan makanan dan memprint bon langsung. Kami membayar dengan menyisihkan tips untuk si Mbak. Tips di Jerman is a must. Jumlahnya gede juga sekitar 10%.  Tagihan kami saat itu 36,5 Euro. Saya kasi 1 lembar 50 Euro dan minta kembalian 10 Euro. Jadi si mbak tahu, tipsnya 3,5 Euro.

Kami kembali lagi ke hotel masih dengan bus HOHO. Sempat mampir juga ke salah satu supermarket yang lumayan besar namanya “Aldi”. Kami membeli dalam jumlah banyak Knoppers untuk oleh-oleh. Knoppers sejenis wafer coklat kacang yang rasanya enak tapi harganya murah dan sangat enteng. Cocok buat dijadikan oleh-oleh makanan khas jerman buat kerabat di Jakarta.

Munich (2) dan Kekunoannya

Dengan bus hop on hop off, rute kami diawali menuju ke kekunoan Munich. Perjalanan ke Nymphenburg Palace atau Istana Nymph memakan waktu 20an menit. Lokasinya memang agak di pinggir kota. Kebetulan kami dapat live guide tour yang sudah oma dan napasnya agak tersengal-sengal. Jadi kasian dengerin si Oma menceritakan tentang sejarah Munich. Saya justru lega setelah dia berhenti cerita, karena dada saya rasanya jadi ikutan sesak napas.

Saat bis memasuki halaman Istana Nymph, hampir seluruh penumpang bus berdecak kagum melihat cantiknya taman luas yang tertata rapi. Rumput hijau terhampar seperti karpet. Bunga cantik warna-warni memagari jalan kerikil. Ditengah-tengah taman ada kolam besar dengan beberapa ekor angsa yang berenang anggun.

Mun_NymphFront

Istana Nymph mulai dibangun tahun 1664, untuk menyambut kelahiran seorang anak yang sudah dinantikan selama 10 tahun oleh pasangan bangsawan Bavarian Elector, Ferdinand Maria dan istrinya Henriette Adelaide of Savoy. Semula Sang Bangsawan memanggil arsitek dari Italia, interior designer dan Lansekap taman dari Perancis, untuk membangun istana ini. Namun dengan bergantinya kepemilikan, sentuhan design Inggris, Spanyol dan perabotan dari China pun meramaikan keseluruhan design istana dan tamannya. Tercatat King Ludwig II of Bavarian lahir di istana ini. Beberapa interior design yang fenomenal pada jamannya, misalnya Great Hall dan Hall of Mirrors (Amalienburg), dapat dilihat dalam bentuk aslinya dan menjadi salah satu warisan budaya terindah Jerman.

Mun_Nymphgarden.jpeg
Halaman depan yang cantik
Mun_NymphBack
Halaman belakang istana Nymph yang luas

Melihat cantiknya istana ini dari luar dan romantisnya sejarah di baliknya, saya dan si Bungsu ingin sekali masuk ke dalam istana. Untuk masuk dikenakan biaya sebesar 11,5 Euro/orang. Gantian suami berpikir, melihat mahalnya tiket dan pendeknya waktu kami, maka kunjungan ke dalam istana ditiadakan. Jiwa ke-princess-an saya dan si bungsu langsung kecewa. Kami berdua harus puas hanya mengintip sebagian kecil interior ruangan dari pintu kaca balkon.

Dari ruangan yang kami intip nampak interior ruangan yang penuh ukiran bersepuh emas tampak megah memanggil-manggil. Memang para pria di keluarga kami kurang romantis. Jadilah saya dan si Bungsu bergegas meninggalkan dunia dongeng Schloss Nymphenburg menuju Kekinian Munich.

Munich (1)

City Tour Bus

Hari keempat di Jerman kami memutuskan untuk ikut tour lokal dengan bus Hop On Hop Off. Dengan tour ini, bisa dipastikan seluruh tourist spot di Munich bisa dilihat atau minimal dilewati. Alternatif keliling kota dengan bus HOHO ini sangat membantu, bila kita sudah capek melototin peta transportasi publik untuk jalan-jalan. Kita bisa menentukan , apakah di satu spot kita turun dari bis untuk mengeksplor lebih lanjut, atau sekedar lihat saja dari atas bis.  Tidak hanya melihat, kita pun dapat mengetahui sejarah kota dengan bantuan live tour guide (orang yang berbicara) atau recorded tour guide (rekaman yang didengarkan melalui headset yang disediakan). Tentunya dalam bahasa Inggris ya.

Sepanjang penglihatan saya di Munich, ada 3 warna city tour model HOHO di kota ini. Yang warna merah dan kuning, berasal dari satu perusahaan yaitu City Sightseeing. Satu lagi dominan warna biru atau campuran merah-biru milik Gray Line. Apa pun warna bisnya, semua bis jenisnya double decker. Bagian bawahnya umumnya ber-AC, dan bagian atasnya terbuka. Continue reading “Munich (1)”

Menuju Munich (Munchen)

Hari ketiga di Jerman, kami bangun kesiangan. Perjalanan kemarin ternyata menguras energi kami dan anak-anak. Bagun jam 8 waktu setempat, kami hanya sarapan mie instant cup yang dibawa dari rumah. Barbeque dinner semalam rasanya masih mengenyangkan, tidak perlu sarapan berat.

Perjalanan dari Dusseldorf ke Munich

Hari ini untuk pertama kalinya kami akan naik kereta antar kota antar state yang lumayan lama. Agar nanti gak grubak-grubuk, suami menyarankan kami survey dulu. Kebetulan di samping hotel kami ada Customer Servicenya Bahn. Tanpa merasa perlu mandi dulu, saya mampir ke counter ini yang dijagai oleh 3 orang staf Bahn. Seorang ibu berambut coklat berbadan subur, menyapa saya dengan ramah. Continue reading “Menuju Munich (Munchen)”