Berlayar dari London ke Amsterdam

Bepergian antar negara di Eropa  paling nyaman memang naik kereta. Sudah sering saya posting perjalanan suka duka kami naik kereta di Eropa. Naik bis juga sudah pernah saat ke eropa pertama kali dengan travel agent. Untuk petualangan baru, kami ingin mencari moda transportasi yang lain saat menuju Amsterdam dari London. Kami menghindari naik pesawat. Terlalu singkat perjalanannya dan kurang asik. Kami memilih naik kapal ferry!

Kalau kita lihat peta, London ke Amsterdam bisa ditempuh melalui jalan darat melalu Terowongan Inggris (English Channel) tapi bisa juga nyebrang melalui laut. Perusahaan tranportasi yang melayani jalur ferry ini salah satunya adalah Stena Line. Kapal dari UK ke Belanda namanya Stena Hollandica. Jenis kapalnya mereka sebut Super Ferry.

Lon-Ams

Kami beli tiketnya secara online di sini. Ada banyak pilihan waktu dan harga tiket. Bisa berlayar siang hari maupun malam hari. Kami memilih berlayar malam karena sekalian ingin hemat waktu dengan tidur di jalan. Kapal berangkat jam 23.00 dan tiba jam 8.00 pagi di Belanda. Total biaya perjalanan untuk 4 orang sudah termasuk 1 kabin dengan 4 tempat tidur yang nyaman plus paket sarapan adalah 246 Pounds. Mahal? Biaya itu kurang lebih sama dengan harga hotel dan tiket kereta untuk 4 orang. Memang jarang ada yang murah di London. Bisa juga berhemat dengan tidak memesan makanan dan berangkat siang hari jadi tidak perlu pesan kamar.

Ferry_miniatur
Miniatur Stena Line

Perjalanan naik Kereta dari London ke Harwich Harbour

Mengingat perjalanan ini sangat baru bagi kami, maka untuk menghindari ketinggalan kapal, kami sudah siap-siap di Stasiun Euston London (dekat hotel kami menginap) jam 18.00. Dengan Oyster card kami membayar kereta menuju Stasiun Liverpool Street London. Perjalanan kereta kurang lebih 25-30 menit.

Dari tiket kapal Stiena Line yang saya beli, disebutkan tiket sudah termasuk perjalanan kereta dari Stasiun Liverpool Street menuju pelabuhan Harwich. Tapi kami ragu, karena di papan pengumuman tidak ada rute kereta menuju Harwich. Saya nanya ke information desk, dan dijawab dengan jutek bahwa nanti juga muncul rute dan jamnya. Kami disuruh tunggu. Ternyata kami datang kepagian. Rute kereta yang muncul di papan pengumuman jumlahnya terbatas. Keberangkatan 30 menit kemudian yang muncul di papan info tersebut. Sedangkan kereta kami masih 1 jam lagi.

Meskipun masih ragu, kami mulai meng-uangkan sisa Oyster card kami dan mengambil depositnya. Lumayan dapat sekitar 20 Pound untuk 4 kartu. Recehan koin itu dibagi dua oleh si Sulung dan si Bungsu lalu mereka keliling ke toko-toko di dalam stasiun untuk menghabiskan receh.

Benar saja, setengah jam sebelum kereta datang, muncul rute kereta ke Harwich di papan pengumuman sekaligus nomer gate ke peron. Kami menunjukkan print out bookingan kapal ke petugas kereta di pintu masuk peron. Lega rasanya karena print out itu benar tiket masuk kami. Setelah di dalam peron, sekali lagi kami bertanya ke petugas, mana kereta ke Harwich harbor dengan menunjukkan print out tersebut. Petugas mununjukkan kereta yang dimaksud. Semakin lega setelah berada di dalam kereta. Sebagian penumpang membawa koper. Berarti tujuan mereka akan pergi jauh kan. Demikian logika saya menenangkan saya.

Perjalanan kereta dari Liverpool Street ke Pelabuhan Harwich memakan waktu 90 menit. Pelabuhan Harwich gampang dikenali karena dari dalam kereta nampak kapal Stena Line yang besar sedang bersandar di pelabuhan.

Imigrasi di Pelabuhan Harwich

Tiba di Harwich jam 21.00 mulai lah proses check in sekaligus proses imigrasi. Koper yang kami geret-geret dari Euston mulai masuk ke pemeriksaan Xray. Selesai pemeriksaan koper dan barang-barang lain, mulailah pemeriksaan orang. Lumayan ketat pemeriksaannya seperti di Bandara. Beberapa polisi pun nampak berseliweran.

Masuk ke pos imigrasi, Visa Schengen saya, suami dan si Bungsu lewat dari pemeriksaan petugas gemuk yang sudah sepuh. S Oma petugas ini membolak-balik visa si Sulung. Lalu dengan wajah penuh selidik si Oma bertanya, “Kamu sekolah di Jerman?” Si Sulung mengiyakan. Lalu si Oma bilang,”Mana bisa kamu masuk Belanda, kamu kan gak punya visa Schengen. Kamu hanya punya visa Jerman!” Bingung juga dengan logika si Oma ini. Tampang saya mulai tegang berusaha menjelaskan bahwa visa study itu berlaku juga ke seluruh negara-negara Schengen. Si Oma tetep ngotot, pokoknya si Sulung gak bisa ke Belanda. Langsung si Sulung mengambil alih penjelasan dengan santai,” Bisa kok..wong saya pernah beberapa kali ke Belanda pakai visa itu.” Penjelasan gaya cuek ini justru bisa diterima nalar si Oma. “Ya sudah, kalau dideportasi di Belanda tanggung sendiri ya akibatnya !” Ok deh Oma….

Dari si Oma kami masing-masing mendapat tiket masuk kapal yang tertera nomor kabin, kupon sarapan, dan tiket kereta di Belanda. Selepas dari tempat si Oma Imigrasi, si Sulung misuh-misuh ke saya, “Mama tuh kalau sama orang-orang Eropa jangan ngotot begitu, apalagi orangnya udah tua. Jelasin aja dengan santai.” Oooh gitu…ok deh nak.

Berhubung awal Januari 2017 sedang ada renovasi di Pelabuhan Harwich, maka semula dari imigrasi bisa langsung masuk kapal, tapi kami saat itu diarahkan naik shuttle bus yang membawa kami ke kapal lewat jalan memutar.

Perjalanan dengan kapal

Kami amazed banget saat memasuki kapal. Memang jenisnya kapal ferry, tapi kapalnya sangat besar. Baru kali ini saya naik kapal sebesar ini. Kabin kami saja letaknya di deck 10. Lift yang tersedia hanya sampai deck 8 selanjutnya kami terpaksa mengangkut koper yang berat-berat itu lewat tangga. Agak lama untuk antri naik lift, karena sekali angkut hanya muat 6 orang dengan koper masing-masing.

Ferry_kabin

Memasuki kamar/kabin, kami terwow-wow dengan kabin kami. Kabinnya memang sempit tapi bersiiiiih banget seperti di hotel bintang 5. Sprei dan handuk di kamar mandi putih bersih tanpa noda. Kasurnya tidak terlalu tebal tapi cukup empuk. Tersedia air mineral dalam botol lengkap dengan kopi, teh dan gula yang siap diseduh. Sabun cair dan shampo juga terisi penuh di wadahnya.

Ferry_cabin

Tidak berlama-lama di kabin, kami segera menjelajah kapal. Ada toko duty free yang menggoda. Ada bioskop yang tayang jam 12.00 malam dan free. Filmya masih terhitung film baru di Jakarta. Restoran terbagi 2. Ada restoran khusus untuk supir truk dan restoran untuk penumpang regular seperti kami. Restoran untuk supir truk luasnya sama tapi isinya jauh lebih penuh. Saya baru sadar, banyaknya supir truk menandai banyaknya truk barang yang ikut nyebrang ke Belanda dengan kapal ini.

Ferry_infoKami menghabiskan waktu ngobrol di restoran sambil ngemil nachos. Kalau mau pesan makan bisa juga. Kami sih sudah makan tadi di Liverpool Street dan sekarang sudah menjelang tengah malam juga, masak makan lagi. Tepat jam 23.00 kapal mulai bergerak menjauhi pelabuhan. Saya mulai merasakan ayunan ombak meskipun kecil. Mata jadi terasa berat ingin segera tidur. Kata suami, saya mabuk laut. Saya gak tau apa yang sebenarnya terjadi, mabuk laut atau emang ngantuk. Pokoknya begitu masuk kabin, ganti baju langsung lelap. Anak-anak masih berkeliling mengeksplor kapal. Malah antara sadar dan tidak sadar saya samar-samar ingat anak-anak membangunkan saya untuk melihat area luar kapal. Mereka menemukan kolam renang, lapangan tenis, area ngegym, dll. Entahlah itu di sebelah mana kapal. Saya teler banget saat itu. Saya tidak tahu lagi kapan mereka masuk kabin untuk tidur.

Jam 5.30 waktu UK atau jam 6.30 waktu Belanda, alarm di hp membangunkan saya. Jangan lupa memajukan waktu sejam ya, karena UK dan Belanda beda sejam. Segera saya mandi karena seharian kemarin belum mandi. Kamar mandinya sempit tapi nyaman. Air hangatnya ada, sabunnya wangi, handuknya bersih … hal-hal simpel yang membuat hati saya gembira pagi itu.

ferry_resto

Jam 7an waktu Belanda, kami bersama-sama sarapan. Melalui jendela kapal, hari masih terlihat gelap. Saat winter matahari memang baru muncul jam 8an. Pilihan buffetnya lumayan banyak dan rasanya lumayan.

Tidur lelap, badan segar, perut kenyang … tidak terasa kalau kami sudah tiba di Holland Hoek. Kami berjalan dalam gelap pagi yang dingin meninggalkan kapal menuju ke peron kereta. Kami ikut saja tanda panah yang mengarahkan kami ke bagian imigrasi bersama koper-koper kami. Seperti yang kami duga, visa study si Sulung tidak masalah kok untuk masuk Belanda.

Setelah itu kami ikut lagi arah yang menunjukan tanda keluar. Udara dingin menyengat wajah kami. Brrrr….paling gak tahan di Belanda tuh anginnya. Nampak di seberang jalan lampu gerbong kereta yang berhenti di peron terbuka menunggu para penumpang. Tidak mengira, semudah ini menemukan kereta dan jaraknya sangat dekat dari pintu keluar pelabuhan.

Kereta tersebut menyongsong fajar menuju Rotterdam. Dengan kartu kereta yang diberikan si Oma di Inggris, kami pindah kereta menuju Amsterdam. Saran saya, kalau ingin bepergian cukup jauh ke kota-kota kecil sekitar Amsterdam, manfaatkan saja kartu tersebut seharian. Kartu kereta tersebut jenis kartu sakti yang merupakan konsesi antara Nederlandse Spoorwegen ( perusahaan kereta belanda) dengan jawatan transportasi lainnya seperti kapal. Sayang kami menyadari hal itu terlambat. Kami ke Dordrecht keesokan harinya dan baru sadar kalau harga one day ticket kereta di Belanda jauuuh lebih mahal daripada di Jerman.

Meskipun agak menyesali keterlambatan info mengenai kartu kereta, namun perjalan naik super ferry ini benar-benar tak terlupakan.

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

2 thoughts

  1. Halloo… saya rencananya mau ke amsterdam dr london. Pengen nyoba naek ferry juga
    Kapal berlabuh nya di rotterdam ya? Dr rotterdam naik kereta. Harga 246 itu udah termasuk tiket kereta untuk one day di amsterdam ya?

    Like

    1. Halo Ishe. Betul kapal berlabuh di Rotterdam. Darisana bisa lanjut ke kota lain di Belanda. Manfaatkan saja tiket kereta fullday itu utk berkunjung ke banyak kota. Karena kalau beli ketengan jatuhnya mahal. Betul harga tsb sdh termasuk tiket kereta tsb 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s