Tempat yang Seru buat Anak di Tokyo

Kemana enaknya membawa anak saat jalan-jalan di Tokyo? Paling gampang ya ke Disney Resort. Menginap di sana 2 hari. Sehari dihabiskan di Disneyland dan sehari lagi di DisneySea. Saya menulis tips seru-seruan di DisneySea di sini.

Lalu selain ke Disney Resort bisa kemana lagi? Kalau dibawa ke kuil-kuil cantik di Tokyo, biasanya ortunya aja yang seneng, anaknya belum tentu. Anak gampang bosan kalau hanya melihat-lihat. Jangan khawatir, ada banyak pilihan tujuan di Tokyo untuk anak dan remaja. Kebun binatang Ueno, Aquarium Shinagawa, atau Kidzania, adalah contoh yang biasa dan bisa kita nikmati di Jakarta. Legoland dan Hello Kitty Town juga ada di negara tetangga kita. Kalau ke Tokyo harus nyari yang lebih unik dari itu.

Continue reading “Tempat yang Seru buat Anak di Tokyo”

DisneySea Tokyo

Pertama kali ke Disneyland California saat usia TK adalah saat yang membahagiakan dan sekaligus pengalaman tak terlupakan buat saya. Sampai sekarang sudah punya anak remaja, saya tetap merasa exited setiap berencana ke Disneyland. Meski kesempatan kedua mengunjungi Disneyland baru berpuluh tahun kemudian di Hong Kong tahun 2008 dan Paris tahun 2013. Oleh karena itu saat merencanakan ke Disneyland Tokyo tahun lalu (2014) kami merancang “strategi” untuk berpetualang di sana. Continue reading “DisneySea Tokyo”

Makan di Jepang

Berapa banyak sih budget sekali makan di Jepang? Tentunya harga tergantung dengan apa yang kita makan, makan di pinggir jalan atau fine dinning, dan makannya banyak apa imut kayak kucing. Teman saya menambahkan, tergantung juga dengan berapa piring yang kita pecahin.

Hari pertama di Tokyo kami makan di “warung” udon di salah satu gang jalan. Saking sempitnya warung tersebut, mereka tidak menyediakan kursi untuk pengunjungnya. Benar, kami makan sambil berdiri di meja tinggi. Ruangan yang sempit itu terdiri dari vending machine untuk memesan, meja panjang di sekeliling tembok, dan dapur yang memakan tempat setengah dari ruangan. Continue reading “Makan di Jepang”

Menjadi tamu Kaisar Jepang

Liburan tahun baru 2014 di Tokyo, kami menjatuhkan pilihan ke hotel Citadines Shinjuku yang mendapat award Traveler’s Choice dari Tripadvisor. Kriteria hotel yang terpenting buat kami adalah lokasi yang dekat dengan public trasportation, tempat tidur yang bersih dan nyaman untuk istirahat cukup.  Hotel ini tepatnya disebut serviced apartment karena ada dapur mungilnya. Kamarnya khas kamar hotel Jepang yang umumnya kecil, tapi tidak terasa kesempitan buat kami bertiga. Si sulung tidur di sofabed yang tersedia. Bisa dibilang “sagala aya” untuk keperluan kami.

Saat meningjakkan kaki pertama di lobby hotel yang kecil, nampak sisa-sisa atraksi pembuatan moci, kue ketan tahun baru. Suatu bentuk keramahan yang dibuat pihak hotel untuk tamunya. Kami langsung merasakan nyaman dengan hotel ini. Lebih nyaman lagi saat berbicara dengan receptionisnya yang berbahasa inggris dengan pronounciation yang bagus. Nantinya mereka menjadi travel guide yang sangat membantu kami.

Setelah check in, seharian ini kami habiskan di daerah shinjuku. Melihat sisa-sisa lampu natal, obralan baju winter, dan makan siang di warung udon sempit yang tidak menyediakan kursi buat pelanggannya. Benar-benar aktivitas turis standar yang kesasar di tengah kota.

Keesokan harinya, tanggal 2 Januari 2014, kami memutuskan untuk berkunjung ke istana kaisar, Tokyo Imperial Palace, yang sedang open house untuk seluruh rakyat. Keputusan ini baru dibuat semalam saat browsing di wifi hotel yang sangat cepat. Jadi kami tidak terlalu ngebayang apa sebenarnya yang akan kami hadapi. Rasanya seru aja mengikuti ritual orang Jepang, apalagi ini bukan kegiatan rutin sehari-hari. Memang ada tour masuk halaman istana. Tapi halaman dalam istana hanya dibuka 2 kali dalam setahun. Yang pertama tentu saja tanggal 2 Januari untuk memberi pesan tahun baru, dan yang kedua saat Kaisar ulang tahun 23 Desember.

Kami berkendara dengan kereta. Jalannya banyak di bawah tanah jadi kami tidak mengetahui pemandangan di atas. Akibatnya, mulut kami melongo saat kami keluar dari underground kereta. Bujuug….banyak banget manusianya di luar istana. Line antriannya pun banyak lebih dari 10 lajur. Polisinya pun banyak. Dari speaker di atas mobil mereka memberi pengarahan kepada semua orang yang nampaknya diikuti dengan patuh oleh mereka. Sudah pasti dong, kami gak ngerti. Jadi kami ngikut aja dengan mereka dan masuk ke salah satu antrian.

Berdiri diam di luar ruang saat suhu hanya 3C sebenernya bukan ide yang bagus. Sendi-sendi mulai terasa ngilu karena kelamaan berdiri dan dinginnya udara. Tapi kami antusias mengikutinya. Ikut senang saat panitia membagikan bendera Jepang dari kertas minyak, dan kegirangan melambai-lambaikan benderanya. Terlihat beberapa turis bule juga ikut antri. Mereka juga cengengesan seperti kami karena dont really know what will happen next tapi tetap ikutan seneng seperti anak kecil.

Kedisiplinan orang Jepang dalam mengantri perlu diacungi jempol. Tidak ada desak-desakan. Semua mendengar perintah polisi. Secara bergantian setiap line maju. Semua digiring ke suatu lapangan yang luas yang terbagi lagi atas beberapa antrian untuk pemeriksaan tas. Nampaknya yang digeledah adalah senjata api. Kamera, dan barang elektronik lainnya boleh masuk. Setelah diperiksa kami masuk ke sekumpulan besar orang yang bergerak perlahan ke kompleks istana. Melewati jembatan purinya yang kuno, halaman luar yang dihiasi pohon Ginko Biloba, terasa sekali tradisonal Jepang. Pada tahap ini linu-linu di sendi sudah agak terlupakan, karena tertutup dengan rasa antusias dan asik foto-foto.

NewYearMssg

Sampailah kami di halaman dalam istana yang luas. Ada ribuan orang mulai dari bayi dalam stroller hingga oma opa berdiri menunggu tampilnya keluarga kerajaan. Terlihat di depan kami istana kaisar yang ternyata berdesign minimalis modern. Atapnya saja yang terlihat khas Jepang. Di tengah istana ada kotak kaca yang menjorok keluar dan tertutup tirai. Kami perkirakan Kaisar akan muncul di kotak kaca yang pastinya bullet proof.

Setelah menunggu semua orang masuk dengan tertib, terdengar suara MC yang membuat orang Jepang bersorak sorai melambaikan benderanya. Tak ketinggalan kami ikut bersorak sorai sambil celingukan, mana Kaisarnya kok udah pada surak-surak? Sepertinya tadi baru announcement MC, “marilah kita sambut Kaisar kita” …gitu sepertinya. Benar saja, perlahan tirai di kotak kaca terbuka. Nampaklah Kaisar Akihito dengan istri dan anak mantu muncul dengan baju resmi ala Barat. Agak kecewa karena berharap mereka pake baju kebesaran daerah. Kebayang kayak Sultan Jogja gitu kalau ada acara rakyat kan pake beskap lengkap tuh.JapanEmperor

Perlahan suasana langsung senyap saat kaisar mulai pidato. Agak magis rasanya, karena semua orang diam menyimak tanpa suara. Kami ikut manggut-manggut, sok ngerti, supaya gak berasa seperti alien di kumpulan rakyat Jepang. Cuma semenit pidatonya, tauk-tauk keluarga kerajaan itu udah dadah-dadah pamit diiringi sorak sorai rakyatnya sambil mengibarkan bendera. Udah neh gitu aja …..ok deh.

Setelah itu kami antri lagi menuju pintu keluar dengan tertib. Tidak ada sampah yang berserakan di halaman padahal tadi ada segitu banyak orang. Rupanya pidato kaisar ini ada beberapa term, karena saat kami keluar nampak ada sekumpulan orang yang antri masuk.

Tidak semua turis kita senang dengan kegiatan ngantri berkunjung ke istana kaisar. Meski kami merasakan serunya menjadi rakyat Jepang sesaat, tapi teman kami yang kami ceritakan, berpendapat lain. Daripada capek ngantri, mending belanja di Akihabara, katanya. Hhhmmm…terserah deh. Buat kami, selama 5 hari di Jepang peristiwa unik ini termasuk yang paling berkesan.

Perjalanan ke Tokyo

Kami berangkat menjelang new year’s eve, naik Garuda. Pesawat agak kosong. Mungkin karena orang lebih memilih berada di darat saat pergantian tahun. Pramugari menyapa kami dengan selamat tahun baru dan membagikan topi kerucut pesta dan sempritan yang memanjang bila ditiup. Sesaat kami merasa seperti memasuki area pesta tahun baru.

Kemeriahan itu semakin terasa saat tua dan muda mulai meniup sempritan sambil menunggu pesawat take off. Kami masih menunggu pihak maskapai akan memberikan kejutan lain saat pesawat sudah terbang sempurna. Tunggu punya tunggu …. ternyata gak ada. Penumpang kecewa. Tepatnya anak kami, si Sulung kecewa. Dia merasa sepi dan mulai membandingkan dengan situasi lain. Harusnya kalau masih di jakarta dia sudah pesta barbeque-an dan menyalakan kembang api nih dengan teman-temannya. Terpaksa setelah memakan habis snack malam dan menonton 1 film, kami memaksakan diri tidur. Sepi.

Narita di Tahun Baru

Tiba di bandara Narita Tokyo, sudah memasuki tahun 2014. Bandara agak sedikit sepi. Saya bandingkan saat tugas kantor untuk meeting regional di hari kerja, Narita terlihat jauh lebih sibuk. Kali ini antrian imigrasi tidak terlalu panjang mengular. Namun petugas di balik loket tetap banyak dan bekerja sama cepat dan efisien. Bedanya adalah petugas lapangan. Biasanya ada petugas imigrasi di tengah-tengah antrian yang sudah cukup uzur membantu turis asing untuk mengisi kartu imigrasi dan mengarahkan antrian. Meski sudah tua mereka tetap tegas tapi ramah. Nah kali ini si oma opa itu tidak ada. Mungkin sedang liburan dengan cucu.

Lewat imigrasi, kami sempatkan mampir ke toilet dan segera mengambil bagasi. Kami tidak menunggu bagasi tapi bagasi menunggu kami. Kami kalah cepat rupanya. Entah sudah berapa putaran koper kami menunggu dengan manisnya di rel berputar.

Lokasi Narita cukup jauh dari Tokyo.Kalau gak macet bisa 1 jam 30 menit ke tengah kota Tokyo. Oh ya benar, Tokyo bisa macet juga. Bisa 2 jam-an kalau macet. (Update: sekarang sudah ada penerbangan direct ke bandara Haneda yang lebih dekat ke Tokyo, hanya 40 menit).

Limousine Bus

Perjalanan ke kota bisa ditempuh dengan 2 cara. Naik kereta atau Limousine Bus. Kami memilih naik Limousine Bus, sejenis Damri tapi jauh lebih keren dan bersih. Karena harus menyeret 2 koper besar dan 1 koper sedang, maka akan menjadi kurang praktis kalau kami naik kereta dan harus pindah ke beberapa stasiun untuk sampai hotel. Sebagai alternatif, naik kereta lebih murah, hanya 1000an yen. Bandingkan dengan naik bis yang 3000 yen.

JapanLimoBusLoket penjualan tiket Limousine Bus ada beberapa di dalam airport dekat pintu keluar. Si mbak penjual tiket bisa berbahasa inggris, tapi aksennya membuat kita sulit mengerti. Sebaliknya aksen kita dalam menyebut nama bahasa Jepang juga akan sulit mereka mengerti. Jadi sebaiknya sudah siap print out nama dan alamat hotel kita. Tunjukkan alamat itu ke si mbak, nanti dia akan kasih tau kita naik bus nomer berapa, jam berapa berangkatnya, dan turun di stopan ke berapa. Untuk kasus saya, meski hotel saya mendapat award dari Trip Advisor 2 tahun berturut-turut, gak jaminan si mbak langsung tau mana line yang terdekat. Jadi untuk amannya browsing dulu di sini untuk tau bis nomer brp dan stopnya di halte mana.

Bisnya datang tepat waktu, gak ada ngaret semenit pun. Jadi jangan kelamaan ngider di bandara atau mojok di toilet setelah beli tiket. Suami yang punctual freak, sudah menggiring kami ke pintu keluar 15 menit sebelum bis datang. Lalu segera pake jaket tebal (lumayan 8 derajat C saat itu) untuk segera mengantri di line bis kami.

Di halte sudah ada mas-mas petugas yang akan memberi koper kita tag nomor dan memberikan ke kita potongan bukti nomor untuk nanti ngambil kopor saat turun. Dia akan tanya kita turun di halte mana. Pastikan anda ingat info si mbak tiket dimana anda harus turun. Tag koper setiap halte akan beda warnanya. Misal halte pertama tagnya biru, halte kedua pink, dst. Jadi koper yang turun di halte terakhir akan dimasukin duluan. Hal simpel tapi membuat kerja mereka efisien. Setelah bis datang, kita langsung naik gak usah mikirin koper. Cukup liat dari jendela bis si mas naikin koper kita ke bagasi bis. Setelah semuanya naik, si mas-mas itu akan membungkuk hormat saat bis kita jalan. Inilah kesopanan orang Jepang dan cerminan mereka menghargai customernya.

Karena kurang tidur di pesawat, saya justru tidur pulas di bis. Pemandangan di jalan tolnya juga kurang bagus, gak rugi untuk dilewatkan. Surprisingly jalanan sangat lancar karena kosong. Saya seperti berkunjung ke Tokyo yang berbeda. Beberapa kali ke Tokyo selalu kena macet. Kali ini jadi terheran-heran kemana perginya mobil-mobil itu. Ternyata tahun baru di Tokyo seperti Lebaran di Jakarta. Orang pada pulang kampung. Makanya gak heran kantor tutup. Toko banyak yang tutup. Akibatnya jalanan sepi.

Biasanya halte bus limusin ini adalah hotel-hotel besar. Saat saya diinapkan kantor di Hotel Excell Tokyu di Shibuya, bisnya berhenti persis depan hotel. Liburan keluarga ini, kami menginap di hotel yang lebih “petit” di daerah Shinjuku. Halte di Shinjuku bukan hotel tapi di perempatan jalan. Dari sana kami naik taxi ke hotel. Taxi di Tokyo kayaknya yang paling mahal sedunia. Argo pertama aja udah 710 Yen untuk 2 km pertama. Untungnya hotel kita gak jauh, jadi Sebelum Argonya ganti angka, kita udah sampai. Selama di Tokyo kami naik taxi hanya dari dari stopan Limousine bus ke hotel dan sebaliknya.

Oh ya kalau rencana pulangnya mau naik Limousine bus juga untuk ke airport, sebaiknya tiketnya langsung dibeli beberapa hari sebelumnya di halte. Karena kalau terlalu mepet takutnya gak dapat tiket dengan jam yang sesuai dengan tiket pesawat. Loket penjualan tiketnya gak jauh kok dari halte. Atau kalau kita turun langsung di sebuah hotel, biasanya di hotel itu juga ada loket penjualan tiketnya.