Lima Menit yang Terasa Lambat

Beberapa waktu lalu, saya membaca pengalaman wartawan Kompas saat di Mapolda Riau. Ketakutan yang ia tuliskan, sangat terasa dari judul artikelnya, “Menjalani 5 Menit Terlama”. Gambaran kepanikannya saat ia harus berpikir cepat di tengah kekacauan, seperti ikut saya rasakan. Apalagi saat ia tak sengaja berhadapan muka dengan teroris yang akhirnya ditembak mati Polisi beberapa detik kemudian. Ingatan saya melayang ke beberapa peristiwa yang pernah saya alami, meskipun tidak sengeri pengalaman sang wartawan.

Pengelaman pertama saya, terjadi saat saya masih kecil. Meledaknya gudang amunisi Cilandak pasti dirasakan anak-anak Jakarta Selatan angkatan 80an. Awalnya letusan beruntut itu tidak menakutkan saya, karena rasa aman berada di tengah-tengah keluarga. Namun saat orangtua menjadi panik, maka kepanikannya menular ke anak-anak. Adik saya mulai menangis. Berita bolongnya atap umah tetangga sebelah karena ledakan mortir, membuat kami semakin panik, sehingga ortu memutuskan kami mengungsi segera ke rumah saudara di Jakarta Pusat. Seperti pengungsi perang rasanya saat kami bergegas masuk ke dalam mobil dengan membawa barang seadanya.

Emosi orangtua di saat emergency seperti itu, sangat dirasakan anak-anak. Itu terjadi saat hanya berdua dengan si Sulung di Jerman. Januari 2016, kami sedang santai-santai hendak berbelanja kebutuhan sehari hari. Naik kereta subway di bawah tanah, menyebabkan kejadian di permukaan tanah tidak kami ketahui. Makanya kami kaget setengah mati, saat menuju pintu keluar Haupbahnhof (Stasiun kereta utama) dekan Koln Dom, karena depan pintu sudah parkir belasan mobil polisi mengarah kea rah stasiun. Beberapa polisi yang bersentaja lengkap dan memakai rompi anti peluru memberi perintah dalam bahasa Jerman, yang tidak kami mengerti sama sekali. Terpaksa kami masuk kembali ke dalam stasiun.

Saat itu saya berpikir cepat, apakah di dalam stasiun lebih aman daripada di luar? Mengingat polisi mengarahkan senjatanya ke dalam. Terpaksa saya memberanikan diri bertanya kepada seorang Ibu dalam bahasa Inggris. Syukurlah si Ibu mengerti. Katanya polisi sedang mengantisipasi kedatangan imigran illegal dalam jumlah besar. Saat itu memang Angela Markel, Kanselir Jerman belum memberikan sikap jelas kepada imigran.

Berhubung kelompok yang sedang dihadang polisi akan datang dari arah dalam (stasiun kereta), maka saya memutuskan segera keluar dari stasiun. Terpaksa saya mencolek seorang polisi terdekat, bertanya apakah kami boleh lewat. Dengan bahasa Inggris sepotong-potong, Ia menjelaskan supaya saya berjalan memutari polisi, jangan menerobos ke tengah-tengah. Ok deh. Segera kami melipir di tengah rintik hujan yang dingin di bulan Januari. Sikap saya mulai santai. Bahkan sempat memotret rombongan polisi yang baru datang dan sedang bergegas keluar dari mobil.

Lega rasanya bisa melewati keriuhan polisi itu. Namun jalan memutar yang kami lalui, ternyata mengarah ke tempat sepi dimana segerombolan orang berbaju hitam-hitam, laki-laki dan perempuan berwajah timur tengah sedang duduk merunduk menahan dingin. Terus terang saya kaget, sedikit takut dan kasihan juga. Apakah mereka termasuk yang dicari polisi? Berapa lama waktu yang dibutuhkan kalau harus lari menuju polisi bila tiba-tiba mereka menjadi anarkis? Apakah kami sempat lari? Tanpa sadar saya menggenggam erat lengan si Sulung dan mempercepat langkah. Rupanya si Sulung merasakan kepanikan saya, ia hanya berucap tenang dalam bahasa Indonesia, “Jangan diliatin Ma, dan jalannya santai aja gak usah terburu-buru,” Saya mengambil napas panjang dan berusaha berjalan lebih santai. Mata bulat besar dengan bulu mata panjang yang dari tadi mengawasi kami dengan curiga, sepertinya sedang ketakutan juga. Bukan sedang hendak melawan. Saya memalingkan wajah, karena tiba-tiba keharuan menyesakkan dada saya.

Koln_Polizei

Pengalaman berikutnya, masih hanya berdua dengan si Sulung, saat kami sedang dalam perjalanan dari bandara Schipol, Belanda, menuju kota Koln, Jerman. Persis di samping saya, dipisahkan oleh gang, duduklah seorang lelaki berbadan kurus, berkulit hitam, berjaket lusuh, duduk dengan gelisah. Matanya kerap melirik ke arah pintu kereta dan sempat tidak sengaja bertabrakan pandang dengan saya. Saya langsung waspada, dan si laki-laki itu langsung mengalihkan pandangannya ke jendela. Dalam hati saya berdoa mohon lindunganNya.

Kereta cepat ICE memasuki wilayah Jerman, ketika masuk 3 tentara Jerman bertubuh tinggi besar, yang harus agak menunduk saat melewati pintu kereta. Tingginya pasti mendekati 2m. Seorang diantaranya perempuan yang tidak kalah tegapnya dengan rambut sebahu yang dikucir satu. Ketiga tentara ini mengecek kartu ID atau passport. Setahun sebelumnya saat ke Jerman sekeluarga, pemeriksaan passport dilakukan oleh seorang petugas kereta. Mengapa sekarang harus bertiga? Bawa senjata pulak.

Saya melirik laki-laki di samping saya yang menaikkan jaket retsletingnya hingga ke dagu. Mungkinkah ia menyembunyikan sesuatu di balik jaketnya? Terlihat ia semakin panik. Bingung mau kabur udah gak sempat, mau coba tenang gak bisa. Akhirnya ia memalingkan wajahnya ke jendela. Saya sempat berpikir, jangan sampai dia panik, lalu bertindak nekat menjadikan saya tamengnya. Meskipun saya jauh lebih gendut, belum tentu lebih kuat, apalagi kalau dia bawa senjata. Saya berbicara kepada si Sulung supaya waspada. Tentunya dalam Bahasa Indonesia.

Ketiga polisi itu tanpa senyum menanyakan passport kami, menanyakan kami mau kemana dan menginap dimana, dan diminta menunjukkan bookingan hotel (tumben…). Semua dokumen ada dan siap di tas saya. Petugas pria ini, menyerahkan semua dokumen saya dengan senyum, dan segera menghampiri rekannya yang nampak kesulitan menghadapi penumpang di samping saya. Si penumpang hanya menggelengkan kepala, walaupun bahasa yang disampaikan petugas sudah berubah dari bahasa Jerman ke Inggris. Dia hanya menjawab dalam bahasa asing yang tidak diketahui. Tidak ada satu dokumen pun yang bisa ditunjukkan yang menunjukkan identitasnya atau tujuannya datang ke Jerman. Senapan si petugas wanita sudah mengarah ke si penumpang, saat petugas laki-laki menggeledah jaket dan kemudian tasnya. Sebelum situasi makin memanas dan menjadi gawat, si penumpang digiring keluar gerbong. Interview dilanjutkan di depan toilet dekat pintu keluar. Lega rasanya saat drama itu menjauh dari sisi saya. Meskipun masih terdengar bentakan petugas, tapi paling tidak sudah gak di dekat saya lagi.

Masih mending kejadian itu masih ada anak laki-laki yang mendampingi. Kejadian huru hara terakhir, saya hanya sendirian. Kejadiannya di New Haven, USA bulan November 2017. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.30, dimana taxi yang saya hentikan di pinggir jalan tidak ada yang mau berhenti. Sambil merapatkan jaket, saya berjalan mencari tempat yang lebih terang dan banyak orang. Saya merasa, beberapa homeless yang duduk di kursi taman memegang botol bir kosong sudah memperhatikan gerak-gerik saya. Makanya saya senang sekali saat melihat beberapa polisi yang sedang berjaga.

Saya hampiri salah satu polisi yang kelihatan tidak terlalu sibuk. Sekalian saya bertanya ke pak Polisi, bagaimana caranya memangil taxi, karena dari tadi kok gak ada yang mau berhenti. Pak Polisinya ternyata ramah sekali. Ia menjelaskan di sini kalau manggil taxi gak bisa dari pinggir jalan seperti di New York. Harus telpon ke armada taxinya. Karena mengetahui saya hanya turis, ia menawarkan untuk memanggilkan taxi untuk saya pakai HPnya. Waah …saya sangat berterimakasih sekali ke Pak Polisi. Setelah selesai telpon, ia menjelasakan bahwa 8-10 menit lagi taxinya datang, yang warna biru. Tapi belum selesai dia bicara, keluarlah segerombolan orang dari gedung di depan kami, diiringi dengan jeritan panik perempuan. Tidak beberapa lama terdengar letusan senjata, pecahan botol, dan teriakan polisi melalui toa. Barulah saya ngeh, polisi yang saya temui tadi memang sedang berjaga-jaga di depan gedung pertunjukan untuk mengantisipasi kerusuhan seusai pertunjukan suatu band. Kaget dengan kejadian yang mendadak, saya malah freeze di tempat nonton kejadian di depan mata. Terlihat seorang laki-laki berjalan terhuyung-huyung sambil memegang kepalanya yang berlumuran darah. Persis seperti kejadian di film action Holywood. Saya baru sadar setelah polisi yang membantu saya tadi berteriak, supaya saya berlari menuju ujung jalan, melewati barikade mobil polisi, menuju tempat yang aman. Barulah sadar ini bukan kejadian film, dan saya harus segera menyingkir dari situ.

Hadeuh ada-ada saja. Di ujung jalan sudah banyak kerumunan orang. Sebagian berasal dari gedung theater itu sebagian lagi bergerak mau menonton. Saya fokus dengan taxi yang sudah dipesankan pak Polisi. Tapi karena beberapa jalan sudah diblokir, arus lalin jadi berubah. Saya bingung sendiri, bagaimana menandai taxi saya. Saat satu taxi biru berhenti dan saya siap menghampiri, eh seorang laki-laki menyerobot masuk, dan hanya bilang “sorry”. What? Kemana lagi nih saya harus nyari taxi. Terpaksa saya harus berjalan lebih jauh lagi sampai menemukan hotel besar dengan brand international. Nekat saya masuk lobby, minta tolong dipanggilkan taxi. Jam 22.30 saya menggigil kedinginginan di teras hotel menunggu taxi datang. Masih mendinglah kedinginginan, yang penting jauh dari kerusuhan. Dan Puji Tuhan malam itu saya tiba dengan selamat di hotel saya.

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s