Makan di Jepang

Berapa banyak sih budget sekali makan di Jepang? Tentunya harga tergantung dengan apa yang kita makan, makan di pinggir jalan atau fine dinning, dan makannya banyak apa imut kayak kucing. Teman saya menambahkan, tergantung juga dengan berapa piring yang kita pecahin.

Hari pertama di Tokyo kami makan di “warung” udon di salah satu gang jalan. Saking sempitnya warung tersebut, mereka tidak menyediakan kursi untuk pengunjungnya. Benar, kami makan sambil berdiri di meja tinggi. Ruangan yang sempit itu terdiri dari vending machine untuk memesan, meja panjang di sekeliling tembok, dan dapur yang memakan tempat setengah dari ruangan.Pesan dan bayar dilakukan di vending machine. Agak kesulitan milihnya karena menu makanan ditulis dengan kanji dan gambar makanan hanya sekuku jempol. Sambil kriyip-kriyip memicingkan mata ke gambar-gambar makanan, saya dan suami pilih udon dengan telur dan si sulung memilih udon yang nampaknya pakai kari. Kami memasukkan selembar seribu Yen dan 1 koin 100 Yen ke mesin tersebut. Lalu keluarlah uang kembalian receh beserta 3 kupon kecil berisi menu pilihan kami. Kupon tersebut kami serahkan ke koki yang sedang memasak di dapur kecil yang penuh asap mengepul dari panci. Sambil menerima kupon, dia meneriakkan menu kami dengan keras ke staf dapur, lalu mempersilahkan kami dengan ramah berdiri di meja yang kosong.

Tokyo_udonrest

Sambil menunggu makanan tiba, kami melepas jaket. Panas bok …. berdiri deket dapur. Lumayan menghangatkan kami dari dinginnya udara. Tidak sampai 3 menit pesanan datang. Syukurlah pesanan kami sesuai dengan yang kami inginkan. Segera makan mumpung hangat. Minum tidak usah pesan, dan memang gak ada pilihan minuman. Jug air putih beserta gelas plastik bersih tersedia gratis di pojokan meja. Dipersilakan menuang sendiri dan minum sendiri. Segaaaarnya.

Tepat setelah kami selesai makan, pelanggan lain mulai bermunculan, jadi kami segera berkemas pergi. Tak lupa membawa baki isi piring kotor ke tempat yang tersedia. Mahalnya sewa tempat di Jepang membuat warung kecil seperti itu harus berpikir cara yang praktis dan cepat untuk melayani pelanggannya tanpa mengurangi enaknya rasa masakan.

Saat business traveling, saya berkesempatan dijamu di Happo-en, restaurant dengan taman yang indah. Happo-en artinya indah dipandang dari 8 penjuru. Sayangnya saya datang saat musim gugur dan tiba di tempat sudah gelap pulak. Daun-daun tanaman sudah mulai rontok, keindahan taman tidak terlalu tampak. Akan tetapi saat turun dari kendaraan lalu melewati jalan taman yang berkelok-kelok di dipandu oleh waitress berkimono yang berbakiak, rasanya seperti kembali ke masa jaman Edo. Gemericik air sungai dan lansekap taman yang nampak samar-samar diantara lampu-lampu taman yang diselimuti kabut, membuat kami ingin berlama-lama di taman. Terasa benar taman ini merupakan oase di antara gedung-gedung bertingkat Tokyo.

dinnerjapanSeingat saya ada 8-9 jenis hidangan yang disajikan dalam porsi kecil. Saat hidangan pembuka nan imut dihidangkan, saya sudah membatin, wah bakalan buka mi instant nih di hotel. Ternyata … setelah semua hidangan habis disantap, baru terasa betapa begahnya perut saya karena kekenyangan. Setiap hidangan disajikan dalam porsi kecil dan dihias dengan ketrampilan khusus sehingga tampak cantik. Wadahnya pun unik. Hampir semua peserta yang berasal dari luar Jepang, selalu menyempatkan memotret hidangan sebelum disantap.

Saya tidak mencatat apa saja menunya. Seingat saya ada appetizer seperti telur ikan di anglo kecil, ada sayur panggang, tak ketinggalan sashimi dan sushi, sup labu dingin, soba, main menu berupa grilled kobe, nasi dengan kedelai, dan dessert. Hidangan yang disajikan satu persatu memang membuat kita penasaran. Menanti dengan antusias saat waitress berkimono masuk membawa hidangan. Lucunya, nasi dihidangkan tersendiri tanpa ditemani lauk dan dihidangkan setelah main dish. Janggal rasanya makan nasi tok yang ditemani beberapa kedelai asin di dalam mangkuk. Sambil diselingi ngobrol dan minum, tidak terasa acara makan ini bisa sampai 3 jam lebih. Wajah bos-bos Jepang saya sudah merah kebanyakan sake.

Ada 4 jenis minuman beralkohol yang dihidangkan. Minuman non alcohol seperti orange juice dan ginger ale bisa juga dipesan. Takut mabok, saya cari aman pesan orange juice. Tapi saat toss awal saya ikut minum sedikit champagne, ditambah segelas red wine saat makan kobe, minum juga sedikit bir yang telanjur dituangkan bos Jepang dan tak lupa icip-icip sake. Ternyata mencampur berbagai jenis minuman beralkohol dalam satu kesempatan, meski jumlahnya sedikit bisa bikin mabok juga. Tidak sampai tepar sih. Hanya sedikit kliyengan dan jadi mudah tertawa untuk joke yang tidak lucu. Alergi alkohol saya pun muncul setelah sampai di hotel, yaitu gatal-gatal seperti biduran. Nah loh !

Kalau makan yang seperti ini biayanya habis berapa ya? Mungkin sekitar 8.000 – 10.000 Yen. Tentunya harga ini belum termasuk minum, yang biasanya lebih costly dari makanannya.

Di Asakusha Temple ada banyak sekali food stall sepanjang gang kecil menuju temple. Kursi tidak disediakan. Jadi makanan yang kita beli dimakan sambal berdiri atau jalan melihat-lihat toko lainnya. Sempat makan sate ayam bumbu teriyaki, yang disebut yakitori. Harusnya sih makan 2 tusuk yakitori sudah kenyang, karena dagingnya besar-besar. Tapi tentunya porsi ini masih kurang buat suami dan si sulung. Alhasil untuk late dinner, kami selalu menyempatkan mampir di restaurant Yoshinoya yang ada di dekat hotel dan buka 24 jam. Satu mangkuk beef bowl harganya sekitar 300an yen. Saking seringnya kami makan di situ, saat kembali ke Jakarta dan lewat di restaurant itu, rasanya udah eneg duluan membayangkannya.

Bagaimana dengan sarapan pagi? Lagi-lagi untuk menghemat biaya, kami beli roti, keju dan telur di mini market dekat hotel. Adanya kitchen set mini di kamar hotel sangat membantu untuk membuat omelet dan roti panggang. Sempat juga saya membeli sup instan yang kemasannya tulisan Jepang semua. Rasa sup baru ketahuan kalau sudah dicicipi. Oh yang list merah ini rasa kaldu ayam, yang list biru kayaknya crème mushroom. Sampai suatu ketika …. hueeek apaan nih amis banget? Mungkin kali ini rasa seafood.

japanhotelbreakfastKembali lagi mengingat saat business traveling, saat sarapan di hotel jangan ragu coba Japanese Breakfast. Bosan kan makan continental breakfast terus. Japanese breakfast disediakan sudah lengkap dalam nampan. Kita tidak perlu mengambil di meja buffet. Meja makannya disekat-sekat, membuat interaksi dengan tamu lain minim sekali. Yang lebih unik lagi menunya. Banyak macamnya, dan dikemas unik. Berhubung tidak tahu mana yang harus dimakan lebih dulu, ya sudah hajar saja. Toh semuanya akan nyampur di perut juga. Dan yang penting, karena meja disekat, tidak ada yang tahu kalau kita makan tidak sesuai dengan aturan Jepang.

Untuk minum selama travelling, Hotel menyediakan air mineral dalam botol sejumlah tamu. Biasanya botol ini yang kami bawa saat jalan-jalan. Air kran memang bisa diminum langsung, tapi kok rasanya kurang ok. Mungkin sugesti aja karena ngebayangin air keran di negara sendiri yang kurang bagus. Kalau air dalam botol sudah habis, mau gak mau kami beli minuman di vending machine yang banyak tersebar di sudut-sudut jalan. Nah kalau sudah di vending machine, dari niat awal mau beli air putih, kami suka tergoda beli minuman lain. Apalagi vending machine di Jepang menyediakan pilihan minuman hangat dan dingin dalam kaleng. Cara membedakan suhunya dengan melihat warna dari label harga. Kalau merah sudah pasti panas dan biru berarti dingin. Kalau minuman hangat umumnya dalam kemasan kaleng. Sedangkan yang dingin bisa kaleng bisa botol plastik. Jenis minumannya beragam mulai dari teh oolong, teh ijo, teh susu, kopi ekspreso, cappuccino, atau coklat. Ada juga satu vending machine yang labelnya putih semua, dan biasanya isinya air mineral, minuman isotonik dan soda. Yang ini sudah pasti dingin semua. Harganya? Satu botol air putih 120 Yen, cappuccino hangat 150 Yen dan bir 300an Yen. Untuk rasa teh dalam kemasan, lidah Indonesia saya masih menjagokan rasa teh Indonesia. Bener-bener gak ada yang bisa ngalahin deh.

Tokyo_vendingmcn

Banyaknya pilihan minuman dengan kemasan yang lucu-lucu, membuat kami agak lama menentukan pilihan. Jadi saat mampir di vending machine, kami pastikan tidak ada orang lain yang akan ngantri. Mantapkan dulu pilihan mau yang panas apa yang dingin. Karena saat itu winter, kami sering pilih hot cocoa. Sudah mantap dengan pilihan baru masukkan uang dan pencet tombol yang ada di bawah jenis minuman yang kita pilih. Dua detik kemudian, minuman itu akan ngglundung di celah paling bawah. Pernah si sulung memasukkan uang dulu baru milih minuman. Ternyata dia bingung karena tulisannya Jepang semua jadi tidak tahu bedanya coklat dengan kopi. Takut uangnya “ketelen” oleh mesin maka buru-buru dia cancel dulu. Padahal belum tentu juga uangnya bisa ketelen.

Mungkin karena mahal membayar penjaga warung maka orang jepang tergila-gila dengan vending machine. Tidak hanya minuman, ada beragam jenis barang yang dijual di vanding machine. Ada coklat dan biskuit, chips, mie instant kemasan, rokok sampai payung. Tapi vending machine minuman jumlahnya paling banyak. Letaknya bisa di dalam mall keren, sampai di pinggir jalan yang rentan terpercik air hujan. Jangan takut kehausan di tengah jalan, karena warung otomatis ini ada almost everywhere.

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s