(Bukan) Tips Belanja di Paris

Hari kedelapan tour Eropa, kami disodori 2 rute saja. Pertama ke Shopping Galeries Lafayette dan kedua ke Disneyland Paris. Rute yang aneh. Mana bisa ke Disneyland hanya setengah hari? Kami sekeluarga (benar … hanya keluarga kami) ijin ke tour leader untuk diturunin aja di salah satu train station supaya kami bisa jalan sendiri ke Disneyland sementara yang lain belanja. Ternyata tidak dibolehkan. Group ini harus kompak ke satu tujuan, whether we like it or not ! Peringatan juga buat calon peserta grup travel yang tujuan utumannya ke Disneyland atau amusement park lainnya. Tanyakan ke travel agent, apakah kunjungan ke tempat ini seharian atau hanya setengah hari untuk sekedar ada di list itinerary.

Galeries Lafayette merupakan shopping mall mentereng 10 lantai. Semua brand mentereng Paris ada di mall ini. Mudah sekali gelap mata di sini lalu memborong banyak barang, kalau … memang ada duitnya. Sebenarnya si Sulung doyan belanja, tapi dompet orangtuanya tidak mendukung hal ini.

Saat datang, ada staf Lafayette yang asli Indonesia menyambut kami. Karena luasnya area belanja, ia menjelaskan secara singkat, dalam Bahasa Indinesia tentunya, dimana letak tas, parfum, pakaian pria, pakaian wanita dan lain-lain. Ternyata area belanja terbagi atas 3 gedung. Gedung utama disebut Lafayette Coupole, berisi koleksi para desainer untuk fasyen dan asesoris wanita seperti tas, kosmetik, perhiasan, parfum, dan juga ada pakaian anak-anak,  buku dan alat musik. Katanya ada restoran dan teras di lantai atas, tapi kami tidak sempat melihatnya. Selanjutnya dari gedung utama ada lorong menuju gedung kedua yaitu Lafayette Homme berisi fesyen dan aksesori pria. Gedung ketiga yakni Lafayette Maison yang juga tidak sempat saya kunjungi, menjual aneka peralatan rumah tangga.

ParisLafayete

Pada akhir sesi, staf tersebut minta kami mendaftarkan nilai semua belanja kami di salah satu counter untuk mendapatkan pengembalian pajak 12% bila belanja di atas 175 Euro. Setelah kami menjelajah, ternyata counter pengembalian potongan pajak ini tidak hanya di lantai 1, tapi ada juga di lantai lain. Saya menghampiri satu ibu-ibu yang sedang mengantri di counter lantai 2. Ibu ini menyimpulkan, counter di lantai 1 hanyalah memudahkan travel agent menghitung belanja kami. Semakin banyak kita belanja maka travel agent akan mendapat bonus tips semakin besar. Jadi menurut mereka, gak usah repot-repot ke lantai 1 karena tidak menguntungkan buat dia. Hhhmmm…saya tak hendak berkomentar lebih lanjut mengenai hal ini.

Konter Leather Goods Department, termasuk tas wanita, ada di Ground Floor. Segala merk tas branded yang ada di Indonesia dan yang belum ada pun berjejer di sana. Tapi saya tidak menjadikan lantai GF sebagai destinasi utama. Saya menjelajahi semua lantai dulu dan paling lama berkeliling di lantai 9 (kalau gak salah) yang isinya tas backpack dan koper. Niat awal nyari backpack, tapi yang dibeli malah tas Longchamp model selempang anak sekolah kata si Bungsu. Harganya bisa 40-50% lebih murah dari harga di Indonesia.

Dari atas, baru saya turun ke  ground floor. Antrian Ibu-ibu Indonesia bisa dilihat di toko Louis Vuitton. Tapi menurut salah seorang ibu dari rombongan kami yang kopernya pun merk LV, koleksi tas LV yang dipajang di etalase saat itu adalah koleksi lama. Model yang seperti itu bisa didapatkan dengan mudah di mall Jakarta dengan harga yang tidak jauh berbeda. Saya hanya manggut-manggut mendengar penjelasannya. Saya tidak sempat mengecek benar tidaknya info tersebut.

Menghindari antrian LV (alasan …) saya malah melirik deretan tas kulit merk Gérard Darel. Harganya masih sepersekian di bawah harga LV. Seperti “terhipnotis” saya beli tas ini karena melihat designnya yg keren. Saat kembali ke bis, nampak ibu-ibu menenteng tas belanja dengan brand terkenal. Saat melihat saya menenteng brand nama Perancis gak jelas, mereka bertanya, apa yang saya beli, tas, baju atau sepatu? Saat itu saya mungkin terlihat “gapfas”, alias gagap fashion. Oooh…merk ini ternyata belum terkenal ya di Jakarta?

Cukup sudah belanjanya, kami sudah tidak sabar menuju ke Disneyland. Letak Disney resort adalah 32 km dari kota paris. Ditambah jalan yang macet maka kami baru tiba 1,5 jam kemudian. Kami pesimis. Ke Disneyland saat highseason dan sudah sore begini, bagaimana bisa menikmatinya? Benar saja kami hanya ada waktu untuk naik 1 wahana saja. Itu pun harus antri hingga 2 jam. Saking lamanya antri, anak-anak sampai akrab dengan anak Perancis yang ada di belakang kami. Lucu cara mereka berkomunikasi sampai bisa ketawa ngakak. Padahal keluarga Perancis ini tidak bisa berbahasa Inggris.

Parisdisney

Sudah datangnya sore, pulangnya pun harus cepat. Tidak ada kesempatan melihat pertunjukan penutup jam 21.00 berupa musik dan kembang api yang biasanya dipusatkan di Sleeping Beauty Castle. Kami buru-buru mencari restaurant sebelum mencapai bis. Selain karena makan malam kali ini tidak ditanggung tour, tidak ada lagi tempat pemberhentian lain setelah ini.

Sempat juga kami masuk ke toko souvenir di dekat pintu keluar. Justru di toko souvenir Disney-lah kami seperti gelap mata. Barangnya lucu-lucu. Mulai dari gantungan kunci, aneka wadah cookies hingga winter collection seperti topi dan syal.

Lalu mana tips belanjanya? Memang tulisan ini bukan tips belanja 🙂

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s