Membandingkan Jakarta dengan Bangkok (Bagian 2)

Di Bagian 1 sudah saya ceritakan tentang perbandingan Bandara, Transportasi umum dan tour lokal.  Berikut ini bagian yang kedua.

4. Wisata Budaya

Wisata budaya adalah salah satu yang dibanggakan Thailand selain wisata belanja. Yang paling top adalah kompleks istana keluarga kerajaan Thailand. Dalam kompleks itu terdapat bagian istana yang terbuka untuk umum, The Royal Grand Palace dan The Royal Temple (Wat Phra Kaew). Kuil kerajaan Wat Phra Kaew, terkenal karena adanya patung Budha dari batu jade. Patung Budha setinggi 66 cm ini dipahat dari sebongkah batu emerald utuh tanpa sambungan.

Tidak jauh dari kompleks istana, hanya dipisahkan oleh jalan, terdapat Wat Pho, The Temple of The Reclining Budha. Patung Budha sepanjang 46 meter ini terbuat dari kuningan dan posisinya sedang tiduran miring sambil menopang kepalannya dengan satu tangan. Wat Po termasuk urutan pertama kuil yang harus dikunjungi di Bangkok. Selain karena kemegahan patung Budhanya, mungkin juga karena kuil ini adalah yang tertua diantara kuil lain di Bangkok

BKK_Watpo

Berkunjung ke kuil-kuil ini di tahun baru ternyata merupakan kesalahan besar buat kami. Bukan apa-apa, orangnya membludak. Umat Budha di Bangkok percaya bila mengunjungi 9 kuil di tahun baru maka akan mendapat banyak berkat. Maka berjejal-jejalan lah orang dari berbagai penjuru Thailand ke kuil-kuil besar, bersama dengan rombongan turis bodoh seperti saya.

Padatnya pengunjung kuil
Padatnya pengunjung kuil

Padatnya turis dan orang lokal di kuil, belum diantisipasi oleh petugas yang berwenang di Thai. Saya teringat saat berjejal-jejal di kuil dan istana di Tokyo saat tahun baru (benar, saya mengulangi kebodohan yang sama di tahun lalu…) Polisi Tokyo sangat sigap mengatur kerumunan. Antrian dipecah dalam beberapa lajur. Dan setiap lajur maju bergantian dalam selang waktu tertentu. Gak ada tuh yang namanya desak-desakan. Balita yang jalannya masih oleng sampai nenek yang berjalan dengan tongkat merasa aman-aman saja mengantri, tidak takut kegencet dengan orang yang lebih besar dan kuat. Hidung juga aman dari sengatan bau keringat yang menusuk. Eh …yang ini mungkin karena tahun baru di Tokyo jatuhnya winter ya. Jarang orang yang berkeringat.

Lain di Tokyo, lain pula di Bangkok. Ditengah-tengah padatnya manusia di kuil yang terpapar dengan teriknya matahari sehingga menimbulkan beragam jenis bau, saya masih bisa mengamati cantiknya kuil-kuil itu. Bagian-bagian yang terbuat dari logam, entah kuningan entah bersepuh emas, nampak berkilat terawat. Begitu juga potongan-potongan cermin kecil yang merupakan bagian dari ornament kuil, tampak bling-bling memantulkan cahaya matahari. Menurut penjelasan tour guide, pemerintah Thai mengeluarkan dana yang sangat besar untuk merawat peninggalan budaya ini. Pemerintah sadar, pariwasata memberikan devisa yang besar, sehingga biaya pemeliharaan menjadi bagian dari investasi pariwisata.

Demikian harusnya pemerintah kita melihat bangunan bersejarah di Nusantara. Saya teringat kereta kencana dan benda-benda bersejarah dari logam di istana Cirebon yang baru saya kunjungi beberapa minggu sebelumnya. Saya yakin dulu kereta kencana itu berkilat tertimpa sinar matahari saat dinaiki Sultan Cirebon. Keris, bokor, peti perhiasan dan benda logam lainnya pasti kuning berkilat menampilkan kemewahan. Sayangnya sekarang teronggok kusam di lemari reot ditemani sarang laba-laba….sedihnya.

Warisan budaya yang terawat baik
Warisan budaya yang terawat baik

Kembali lagi ke Bangkok, selain kuil-kuil megah yang bling-bling, ada juga wisata menyusuri sungai seperti di Venice. Dengan perahu khas berujung runcing (long tail boat), turis diajak menyusuri kanal-kanal kota. Pemandangan yang disajikan sih standar ya buat orang Asia. Kebanyakan rumah tropis yang sederhana, halaman belakang sekolah, hingga kuil-kuil kecil. Sungai atau kanal yang kita lewati juga tidak bisa dibilang bersih. Masih banyak sampah plastik yang hanyut. Di beberapa sudut juga masih ada tanaman enceng gondok menutupi permukaan sungai. Tapi sungai ini tidak tercemar. Tidak juga tercium bau got seperti kanal di Venice. Airnya yang coklat masih menjanjikan kehidupan buat ikan-ikan sungai. Di salah satu kuil kecil kami diberi roti tawar untuk makanan ikan. Saat cuilan roti kami sebar ke sungai, muncul lah segerombolan ikan mas yang ukurannya besar-besar. Kalau dikiloin di rumah makan Sunda mungkin beratnya 1 kg per ikan. Lah jadi pengen pepes ikan mas …

BKK_Longtailboat

Perjalanan perahu ini diawali dari Sungai Chao Phraya yang berarus deras, lalu masuk ke kanal-kanal kecil dan berakhir lagi di Chao Phraya. Perpindahan dari sungai ke kanal harus melewati pintu air besar yang berfungsi sebagai pengendali banjir. Melewati pintu air ini juga menjadi pengalaman unik. Dari sungai Chao Prhraya yang alirannya deras, perahu masuk dulu ke saluran penghubung yang depannya ditutup oleh pintu air besi yang besar. Perlahan ada pintu air lain yang turun menutupi sungai di belakang kami. Lalu air perlahan surut. Lima belas menit kemudian pintu air depan yang semula tertutup, perlahan naik ke atas dan membuka jalan menuju kanal. Proses ini berulang saat kami melaju dari kanal ke Sungai. Bedanya saat kedua pintu tertutup, air langsung meninggi setinggi permukaan sungai, baru pintu menuju sungai terbuka. Kembali saya berandai-andai, siapa tahu sungai di Jakarta nantinya punya wisata sungai begini …

5. Wisata Belanja

Belanja di Bangkok memang banyak pilihan. Ada shoping mall mentereng dengan barang branded dan harga aduhai, ada juga shopping mall kelas manga dua yang isinya non branded atau branded kw dengan harga ramah di dompet. Letaknya kedua jenis mall ini juga deket-deketan.

Tahap awal kami mengunjungi mall mentereng dulu. Bukan karena mumpung dompet masih tebal, tapi karena mau ke musium lilin Madam Tussauds. Letaknya di shopping mall sekaligus area perkantoran Siam Discovery lt. 6. Tetanggaan sama Siam Discovery bisa dijumpai Siam Center dan Siam Paragon. Semuanya adalah mall mentereng gonjreng macam Senayan City atau Gandaria City. Sekilas harganya pun gak jauh beda. Entah lah saya tidak sempat mengecek tas-tas branded. Cuma mampir di toko kosmetik Siphora dan beberapa toko baju. Kami keluar dari mall mewah ini tanpa menenteng satu pun tas belanja.

BKK_TussaudBelok bentar cerita tentang Musium Madam Tussauds. Koleksi musium ini kurang up to date menurut saya. Memang ada sih Wolverine dan Katty Perry, tapi si Bungsu mengharapkan ada One Direction dan bintang muda Hunger Game, si Katniss dan Peeta. Patung artis Asianya banyak banget, sayangnya tidak banyak dikenal oleh si Bungsu dan juga saya. Jadi kurang puas berfoto-foto di sini. Sedikit tips kalau foto di musium ini. Coba deh gayanya jangan standar kayak foto di samping patung. Buatlah suatu background cerita seolah-olah sedang ngobrol atau berkegiatan bersama orang benerannya. Berikut contoh cara berfoto dari emak-emak narsis.

BKK_PlatinumNah yang seru adalah belanja di shoping mall jenis Two Mangoes alias Mangga Dua. Yang terkenal adalah MBK dan Platinum. Banyak papasan dengan orang Indonesia di kedua mall ini. Dari yang logat Suroboyoan sampai logat Manado. Tentengan mereka bukan lagi kantong kresek tapi sudah pake trolley bag portable. Sepertinya beberapa orang ini belanja untuk dijual lagi di Indonesia.

Tokonya sangat luas dan terdiri dari ratusan kios. Perhatikan denah lantai sebelum anda berpetualang, supaya gak nyasar. Lalu bagaimana dengan harganya? Hhhmm… Saya tidak pintar belanja, jadi kurang tahu apakah harga itu benar-benar murah. Sebaiknya sih kalau mau belanja di sini, lihat dulu barang-barang di Mangga Dua Jakarta supaya ada perbandingan harga. Sebagai contoh, kalung asesoris lucu-lucu dengan kulaitas baik harganya mulai dari 100 Baht. Bahkan beli 2 gratis 1. Baju pesta kodian yang model princess harganya mulai dari Rp 500 ribuan sudah full manik-manik. Yang kualitasnyanya seperti keluaran butik dan warnanya gak kampungan harganya Rp 1 juta. Bagaimana lebih murah mana?

6. Local food and street food

Makanan Thai yang sudah mendunia memang bikin iri dan penasaran. Bagaimana sesungguhnya rasa masakan Thai di negara asalnya? Yang sudah terkenal adalah sup seafood asam pedas Tom Yam dan semacam kwetiaw seafood goreng, Phad Thai.

Selama di Bangkok, saya hanya sekali makan tom yum yang enak banget, yaitu yang diarahkan si tour guide lokal. Supnya tidak jernih tapi ditambahi sedikit santan, jadi tersa asam pedas dan gurih. Asamnya cukup dan wangi sereh dan daun jeruknya balance. Selanjutnya saya coba di beberapa tempat kok ya gak enak yang seenak yang pertama. Ada yang terlalu asam hingga dahi berkernyit, ada yang aroma serehnya terlalu kuat dan ada yang cewer gak jelas rasa tom yam apa sayur asem.

Jangan tertukar tom yam dengan tom kha. Keduanya sama-sama sup. Tapi Tom kha rasanya lebih mirip sayur lodeh jawa. Entah raja-raja Jawa yang memperkenalkannya ke Thai, atau sebaliknya …

BKK_Streetfood

Sedangkan Phad Thai yang enak justru saya temukan di warung tenda pinggir jalan dekat hotel. Rasa gurihnya kacang bercampur dengan asam mainisnya saus ikan. Memang jangan remehkan street food atau makanan pinggir jalan Bangkok. Rujak mangga kuning yang mengkal, seperti memanggil-manggil di pinggir jalan. Juga kelapa muda yang besarnya dua kepalan tangan, terlihat lebih segar daripada minuman soda dingin. Gorengan untuk camilan juga ada. Tapi gorengannya kacangan mete… Belum lagi harumnya asap bakaran seafood. Bagaimana gak tergoda untuk jajan? Apalagi gerobaknya jualannya umumnya terlihat bersih. Penasaran, apakah dinas pariwisata atau kesehatan yang mengatur makanan jajanan pinggir jalan ini?

BKK_Asiatique

Salah satu tempat wisata kuliner yang modern di Thai adalah Asiatique. Konsepnya mirip Citos di Jakarta atau PVJ di Bandung. Harganya tentunya lebih mahal daripada makanan pinggir jalan. Banyaknya aneka restaurant semi outdoor membuat kita bingung memilihnya. Ada juga toko-toko souvenir dan hiburan ala pasar malam buat anak-anak. Sayangnya saya tidak menemukan makanan yang enak di sini. Masih lebih menggoda makanan pinggir jalannya …..

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s