Bangkok Selayang Pandang

Saya baru sekali ini ke Bangkok. Meskipun suami sudah beberapa kali mengajak liburan ke Bangkok, saya merasa segan. Dalam bayangan saya, Bangkok sama lah seperti Jakarta. Bila meeting regional di kantor, saya perhatikan kolega dari Thai biasanya revenuenya hanya beda 11-12, strategi marketingnya mirip karena target marketnya sama, dan orangnya pun derajat ke-norak-annya gak jauh beda sama saya. Kalau serupa dan sebangun tidak ada yang baru, buat apa ke Bangkok? Demikian alasan saya waktu itu. Akan tetapi dihadapkan dengan keinginan liburan tahun baru yang dekat-dekat saja, mau tak mau membuat saya melirik Bangkok. Jadilah kami berangkat di malam menjelang tahun baru 2016.

bangkok

 

Rencana Perjalanan

Keputusan kami akan liburan ke Bangkok baru ketok palu November akhir. Gosssh …ini berarti saya hanya punya waktu sebulan untuk persiapan, sambil sibuk menyambut natal dan kesibukan akhir tahun lainnya. Paling susah dengan waktu yang mepet ini adalah mencari tiket pesawat yang affordable. Harga ticket budget airline saja sudah 4 jutaan. Siapa yang nyangka ternyata Thai Airways mengeluarkan harga promo di bulan Desember dalam rangka HUT ke-55 maskapai tersebut. Aaah … senangnya dapat ticket dibawah harga budget airline.

Mencari hotel dengan waktu mepet dan saat peak season, juga bukan perkara mudah. Budget hotel yang berada di pusat tempat belanja Bangkok, harganya sudah membumbung tinggi dan banyak yang fully booked. Konon hotel-hotel ini diminati oleh orang-orang Indonesia yang gemar belanja. Terpaksa saya mencari agak melipir menjauhi pusat kota, karena memang tidak berniat belanja gila-gilaan. Didapatlah Chatrium Residence Sathon Bangkok yang berkonsep serviced apartment dan jaraknya sekitar 7 km dari pusat kota. Harga 1 apartment 2 kamarnya sama dengan harga 2 kamar budget hotel di pusat kota. Harganya memang tidak murah tapi kamarnya sangat luas dan kompleks hotelnya sangat asri.

Berikutnya memikirkan jalan-jalannya. Padatnya kesibukan bulan Desember membuat saya kurang waktu untuk browsing tentang public transportation Bangkok. Supaya gak banyak mikir tentang cara, rute dan ongkos, saya mencari tour lokal saja untuk city tour. Ternyata mencari tour lokal yang bonafit bukan abal-abal juga bukan perkara gampang, karena pilihannya banyak sekali. Bolak-balik saya harus melihat review beberapa tour lokal di tripadvisor dan mencari pilihan paket tour yang cocok di hati dan di dompet.

Perlu waktu 2 minggu untuk membooking 1 tour lokal. Pilihan tour pertama, saat dikirimi email, lamaaa banget jawabnya. Ah …langsung drop saja tour yang tidak responsive begini. Pilihan tour kedua, kurang dari 24 jam langsung jawab. Sayangnya jawabnya adalah dia sudah fully booked di tanggal yang saya inginkan. Tanggal yang available adalah di saat saya sudah balik ke Jakarta. Sial. Pilihan ketiga, Thai Tour Guide yang dikomandani Mr. Chob. Mereka merespon email dengan cepat dan menawarkan paket tour yang fleksibel. Lumayan lah …

Itu saja persiapannya. Selebihnya tinggal packing koper di h-1 dan berangkat lah kami diiringi tiupan terompet dan letupan kembang api menyambut tahun baru 2016.

Sekilas tentang Thai Airways

Pertama kali juga saya naik Thai Airways. Bagaimana rasanya? Hhmmm…mau tidak mau saya membandingkannya dengan maskapai nasional kita Garuda Indonesia.

Pesan tiket Thai Airways di websitenya dibatasi hingga jumlah Rupiah tertentu. Karena harus beli 4 tiket, melebihi jumlah maksimal rupiahnya, terpaksa lah saya pergi ke kantornya di Wisma Nusantara, satu kompleks dengan Hotel Pullman. Kantor penjualannya kecil, hanya dilayani 2 petugas penjualan dan 1 kasir. Prosesnya sih gak ribet dan staf yang orang Indonesianya ramah. Dari mereka lah saya tahu akan ada harga promo yang belum muncul di websitenya.

Pesawat yang saya naiki adalah pesawat lama Airbus 320. Konfigurasi kursinya 3-3. Interior pesawat keseluruhan sih ok buat saya, seperti Garuda penerbangan dalam negeri. Yah… kalau mau agak cerewet, seatbeltnya keliatan butut. Baru timbul masalah utama saat menyalakan layar TV. Laaah … ternyata gak ada TVnya … mati gaya deh kami selama perjalanan.

Bkk_CabinThaiairways

Untungnya pas pulang ke Jakarta, pesawatnya “agak” lebih baru jadi ada TVnya buat hiburan. Sayangnya masih ada problem juga. Layar sentuhnya sudah gak terlalu responsive. Harus sabar menekannya berkali-kali sekaligus hati-hati agar orang yang di depan kita tidak teantuk-antuk kepalanya karena kita nekan layar sambil napsu. Koleksi film dan lagunya lumayan, tapi lebih komplit dan baru punya Garuda.

Yang tidak saya duga adalah pramugarinya. Awalnya saya kira pramugarinya ramah dan helpful seperti umumnya orang Asia. Masih acceptable diberi senyum datar saat menyambut penumpang di pesawat. Tapi kurangnya kehadiran pramugari di kabin, baik saat boarding sampai landing, kok ya agak mengurangi kenyamanan. Saat boarding,  penumpang ribet sendiri nyari nomor kursi dan nutup bagasi kabin, jarang terlihat pramugari memandu dan membantu. Sebelum take off pramugari juga tidak beredar ngecek apakah seatbelt sudah terpasang apa belum. Tauk-tauk udah ‘take off position’ aja…Gak ada juga permen atau juice yang dibagikan oleh pramugari. Selama perjalanan, pramugari jarang berkeliling kecuali saat serving makanan. Crewnya Garuda jauuuh lebih ok lah

Bisa dibilang untuk makanannya, Thai Airways sekelas dengan Garuda. Porsinya pas dan rasanya ok.

BKK_DinnerThaiairways

Yang melebihi Garuda adalah ketepatan waktunya. Baru kali ini naik pesawat take off 10 menit lebih cepat dari jadwal. Entahlah bagaimana ngaturnya dengan pihak Bandara…

Sekilas tentang Bangkok

Tiba di Bangkok jam 11 malam, kami mengira Bangkok akan ramai menyambut tahun baru seperti di Jakarta. Dari awal saya kan sudah menganggap Bangkok sebagai kota kembarnya Jakarta. Ternyata sepi aja tuh. Sesekali terlihat letusan kembang api di kejauhan. Bahkan di Bekasi yang pinggiran, letusan kembang apinya lebih banyak daripada di Bangkok.

 Kami melewati jalan tol yang sepi dan gelap. Supir taxi yang tidak bisa berbahasa Inggris, tidak bisa ditanya, apakah memang seperti ini malam pergantian tahun di Bangkok. Kami hanya berharap bisa tiba di hotel sebelum jam 12 supaya bisa ikutan pesta tahun barunya hotel.

Tiba di hotel, kami lega dengan tampilan hotel yang bagus dan asri seperti tampilan di websitenya. Receptionis hotel dengan keramahan khas Asia membantu proses check in dengan cepat. Kamar kami pun luas dan bersih. Dengan hati senang kami bergegas ke area kolam renang untuk mengikuti pesta. Sampai pool side, yang ada kami cekikikan…laaah tamu yang datang kurang dari 100 orang dan acaranya garing banget. Jadi selesai countdown dan mulai diputarnya lagu disco era 90an (jiaaaah…), kami segera kembali ke kamar untuk doa keluarga.

Sekilas saya melihat Bangkok adalah tempat wisata yang komplit. Seperti menggabungkan beberapa area wisata dalam satu tempat. Gabungan antara gedung bisnis pencakar langit lengkap dengan area belanja Mangga Dua Jakarta, bersisian dengan area candi Borobudur dan Prambanan di Jawa Tengah dan sungai yang bisa diarungi seperti di Venice, plus bonus indahnya pantai Bali di pinggiran kota. Komplit kan? Semuanya ditempuh dalam waktu singkat karena jaraknya yang dekat. Tapi tetap saja ada bedanya dengan negri sendiri. Perbedaan dan kesamaanya saya tulis di posting selanjutnya 😉

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s