Sesaat saja di Dusseldorf

Akhirnya jadi juga kami sekeluarga liburan kembali di Eropa. Bedanya kali ini kami pergi saat musim panas, dan negara tujuannya berbeda dari liburan sebelumnya. Kami mendarat di Dusseldorf, ibu kota propinsi (state) North Rhine-Westphalia. Kota ini dikenal sebagai pusat bisnis dan keuangan international, dan sering mengadakan pameran dagang.

Kami tiba jam 13.30 di Bandara Dusseldorf atau Dusseldorf Flughafen, yang merupakan Bandara ketiga terbesar di Jerman setelah Frankfurt dan Munich. Sempat bingung dengan banyaknya orang yang menonton di atas gedung saat pesawat kami menuju ke tempat parkir. Baru ingat, Airbus 380 yang kami tumpangi kan baru 2 minggu lalu masuk Dusseldorf untuk pertama kalinya. Melihat pesawat berbadan gendut ini mendarat, mungkin menjadi tontonan asik dan bahan pembelajaran juga buat mereka.

Saat keluar dari pesawat, barulah petualangan kami yang sesungguhnya dimulai. Di bagian imigrasi, Suami yang maju duluan sempat ditanya serius oleh petugas. Ditanya ngapain ke Jerman, berapa lama, sama siapa, habis dari Jerman ke negara mana aja, punya tiket pulang apa enggak, dan diminta menunjukkan tiket pulang. Saat ditunjukkan print out tiket pulang, petugas tersebut mulai melunak. Berikutnya saya dan anak-anak dipanggil petugas tersebut untuk maju sekaligus, dan petugas sudah mulai tersenyum saat melihat si Bungsu yang maju duluan. Tanpa banyak tanya, kami mengakhiri proses imigrasi dengan cepat diakhiri dengan ucapannya, “Have a nice holiday.”

Naik kereta pertama, dari Airport

Beres dengan imigrasi dan bagasi, kami mulai mencari stasiun kereta S-Bahn Line 11 di dalam bandara. Menurut saran di forum Tripadvisor, letaknya ada di basement. Mula-mula kami mencari restaurant Mc Donald, yang ternyata cukup mudah ditemukan. Di depan restaurant itu ada elevator landai yang tak berundak menuju ke lantai bawah. Sampai di bawah agak kebingungan karena hanya nampak ruangan kosong. Kami berjalan terus melewati pintu sekitar 200 meter, baru nampak peron stasiun.

Dus_TrainDi sana terlihat 2 vending machine ticket berjajar. Kami harus membeli Day ticket (Tageskarte) untuk grup yang terdiri dari 4 orang seharga 15,9 Euro. Harga grup tentu saja lebih murah daripada beli satuan. Tiket itu berlaku untuk tujuan Duseldorf Flughafen ke Dusseldorf Hauptbahnhof dan berlaku juga untuk keliling-keliling naik kereta,trem dan bis di kota Dusseldorf seharian.

Dus_TrainTicketKereta S-11 lewat setiap 10 menit sekali. Perjalanan kereta ini hanya memakan waktu 15 menit. Jangan lupa untuk validasi tiket di kotak dekat pintu masuk tram atau di stasiun. Masukkan tiket sesuai arah panah yang ada tulisan “Entwerter“.  Seperti foto tiket di samping ini. Tanggal, waktu, dan kota akan distamp di kartu tersebut oleh mesin box. Terus terang, saya lupa memvalidasi tiket (ssssttt….) Untungnya tidak ada pemeriksaan tiket di dalam kereta. Selama naik kereta dalam kota di Jerman, saya tidak bertemu dengan petugas yang memeriksa tiket kereta. Tapi yang saya baca, sewaktu-waktu ada juga sih petugas yang sidak. Kalau ketahuan sebagai penumpang gelap, maka siap-siap saja kena denda yang sangat mahal.

Tiba di Dusseldorf Hauptbahnhof, peron stasiun kelihatan biasa aja seperti di Gambir dengan kabel yang semrawut. Peron ada di lantai atas, lalu di lantai bawahnya atau lantai dasar banyak sekali toko-toko roti, pizza, sandwich, mini market dan hotel Ibis Budget. Kami menginap di hotel liliput yang bersih ini, dengan pertimbangan kami akan sering berada di stasiun selama di Dusseldorf.

Staf resepsionis hotel yang menyambut kami adalah seorang pria berwajah Jerman asli yang kaku dan irit senyum. Tapi proses check in dilayani dengan baik dan efisien. Mungkin untuk standar mereka, senyum sedikit itu udah ramah ya. Tapi dibanding orang Asia, apalagi orang Indonesia yang suka tebar senyum, beda banget rasanya.

Sekitar Kota

Setelah istirahat sebentar, sekitar jam 5 sore kami melanjutkan jalan-jalan. Kalau mengikuti jam WIB saat itu sudah jam 10 malam. Untuk melawan jetlag yang membuat kami kepingin tidur, kami harus banyak beraktivitas sampai jam tidur di negara tujuan tiba. Lagipula jam 5 sore saat summer, matahari masih terang benderang sampai jam 9 malam nanti.

Sepertinya tidak banyak yang bisa dikunjungi di Dusseldorf. Tujuan kami saat itu adalah ke Altstadt (kota tua), lalu ke Konigsalle pusat toko-toko fashion dan ke Classic Remise, pusat pameran mobil kuno. Sebenarnya Rheinturm, TV tower setinggi 240.5m dengan jam digital yang katanya terbesar sedunia, merupakan landmark kota yang perlu dikunjungi juga. Tapi karena waktu yang terbatas, kami tidak memasukknanya ke itinerary.

Dengan naik subway U75, kami tiba di Aldtstadt dalam 10 menit. Kota tua khas Eropa dengan alun-alun kota dan jalannya yang terbuat dari bebatuan jaman dulu, mengingatkan perjalanan kami ke Eropa 2 tahun lalu saat winter. Cuaca summer kali ini  cukup sejuk, sekitar 20C, nyaman sekali untuk jalan-jalan. Seperti di Puncak atau di Bandung lah. Light hoody jacket yang saya bawa, cukup menjaga saya tetap hangat saat angin bertiup.

Dus_Oldtown

Ditengah alun-alun ada patung bangsawan penguasa sebagian daerah Kerajaan Romawi, yaitu Jan Wellem atau John William yang sedang mengendarai kuda. Selain patung si Bapak ini, banyak patung-patung lain di sekitar alun-alun disertai keterangan dalam Bahasa … Jerman. Karena vocabulary Bahasa Jerman saya hanya sebatas Ich liebe dich, jadi saya gak ngerti patung-patung ini mengenai apa kalau belum di-googling.

Satu patung graphis yang bercerita tentang sedihnya peperangan, sempat membuat kami berhenti sebentar untuk mengamati. Patung atau monument dari perunggu itu dibuat sangat detil sehingga terlihat emosi takut dan kemarahan. Judul patung itu Battle of Worringen, dibuat tahun 1988 untuk memperingati 700 tahun kota Dusseldorf, dibuat oleh Bert Gerresheim.

Dus_woringer

Altstad Dusseldorf terkenal dengan sebutan “the longest bar in the world”. Karena di sekitar alun-alun banyak bar sebelah-sebelahan. Mungkin karena belum masuk October Fest, dimana orang-orang Jerman beramai-ramai minum bir, Altstad sore itu nampak sepi. Tidak kelihatan gerombolan turis berfoto-foto disitu. Jadi tidak berlama-lama di situ, kami memutuskan lanjut ke Konigsallee dengan berjalan kaki sekitar 1 km.

Dus_riverTempat belanja fashion Konigsalle, pemandangannya sangat cantik. Di satu sisi deretan butik-butik terkenal, di sisi lain kanal dengan taman yang tertata rapi lengkap dengan patung-patung dan kursi taman. Lagi-lagi kami merasakan tempat ini kok sepi ya. Apakah kami datang saat waktu yang salah, atau kota ini memang sepi? Mobil yang lewat sepanjang jalan ini pun jarang terlihat.

Saat strolling di sepanjang kanal yang sangat asri (sengaja menjauhi toko agar isi dompet tak berkurang), kami dikagetkan oleh sepeda yang ngebut. Tanpa sadar kami berjalan di jalur sepeda, yang nampaknya pengemudinya pembalap semua. Dusseldorf dan Cologne memang kota sepeda. Jalur khusus sepeda hampir selalu ada bersisian dengan pedestrian di setiap jalan besar. Selama di kota tersebut, kami masih saja suka gak nyadar jalan memasuki jalur sepeda, dan nyaris tersambar sepeda yang melaju kencang, tanpa sedikit pun berusaha ngerem.

Memasuki jam 7 malam yang masih benderang, si Bungsu mulai merengek untuk kembali ke hotel. Rencana ke Pameran mobil klasik pun kami batalkan, demi menjaga “rombongan sirkus” ini tetap sehat dan kuat selama liburan. Kami makan malam dulu di restaurant burger yang franchisenya juga banyak di tanah air. Belum berani memulai petualangan kuliner di hari pertama ini.

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s