Persiapan ke Eropa Tengah (1)

Ditengah-tengah kesibukan sehari-hari, menyiapkan liburan sendiri ternyata membutuhkan waktu yang lamaaaaa dan panjaaaaang.

Dimulai dengan kegiatan banyak browsing, buat draft itinerary, minta persetujuan Penyandang Dana alias Suami, membeli tiket pesawat, mendetilkan itinerary, memesan hotel, membeli tiket kereta api, membeli asuransi perjalanan, mengurus visa, memesan beberapa tour lokal, menyusun itinerary supaya mudah dibaca anak-anak, persiapan apa yang harus dibawa dan mengatur apa yang ditinggal di rumah dan akhirnya …berangkat.

Pertimbangan kami memilih negara tujuan bisa dilihat di sini

1. Menyusun Itinerary

Dengan banyak browsing dan diskusi dengan Suami, semula kami hanya menentukan 3 negara saja untuk dikunjungi. Yaitu Jerman, Hungaria dan Czech Republik. Tapi kota Salzburg di Austria ditambahkan belakangan karena dilewati di rute perjalanan.

Rute ini harus dipastikan dulu dari awal sebelum memesan tiket pesawat. Ya pasti lah…karena kota awal dan akhir menentukan bandara mana saat kita masuk dan keluar dari Eropa. Selain itu negara yang palaing lama kita kunjungi juga menentukan di kedutaan mana kita harus apply visa schengen.

2. Memesan tiket pesawat

Tiket pesawat merupakan komponen biaya terbesar dalam wisata ini. Komposisinya bisa 40-60% dari total biaya. Oleh karena itu perburuan tiket pesawat harus dilakukan secara seksama dan dalam tempo yang cukup jauh dari tanggal berangkat. Kami sudah mulai ngintip harga pesawat 7 bulan sebelumnya. Berdasarkan draft Itenerary, kami memutuskan untuk masuk ke Eropa melalui Dusseldorf (kota terdekat dengan Cologne) yang memiliki bandara ketiga terbesar di Jerman setelah Frankfurt dan Munich. Lalu pulangnya melalui Prague.

Menentukan tanggal keberangkatan dan kepulangan adalah variable penting selanjutnya. Buat kami saat itu tanggal sama sekali tidak flexible. Liburan kami disesuaikan dengan cuti kantor dan jadwal libur sekolah anak-anak. Jadilah kami berangkat seminggu sebelum lebaran dan pulang seminggu setelah lebaran.

Saya menggunakan Kayak.com untuk mencari harga tiket termurah. Sebenarnya banyak web aplikasi sejenis Kayak, contohnya Expedia, Skyscanner, dan Orbitz. Hanya saja saya terbiasa dengan Kayak. Prinsip pencariannya sih semuanya sama. Pilih  option MultiCity flights, masukkan kota asal dan kota tujuan, masukkan tanggal keberangkatan, setelah itu add flights dan masukkan lagi kota selanjutnya dan tanggal pulang. Beragam pilihan pesawat dengan harga dan lamanya perjalanan akan muncul. Hasilnya hanya sebagai bahan pertimbangan saja. Untuk harga pastinya masih harus dicek ulang ke website resmi masing-masing airline. Kadang-kadang suka ada promo langsung di website resmi. Kami lebih merasa aman membeli langsung di website resmi penerbangannya.

Karena pilihan tanggal kami sudah masuk peak season yaitu summer holiday dan libur lebaran, maka harga pesawat termurah adalah USD 1200an. Memang agak-agak jantungan nyari tiket pesawat. Selain harga tiket yang cenderung naik, rate USD pun mulai membumbung dari Rp 12.600 menuju Rp 13.000

Variabel lain yang menentukan adalah jumlah transit dan waktu transit. Pergi dengan “rombongan sirkus” begini, maka transit 1 kali saja adalah pilihan terbaik, supaya anak-anak tidak terlalu lelah. Lalu lamanya waktu transit juga menjadi pertimbangan. Kami terpaksa mengabaikan penerbangan murah yang transit timenya hanya 55 menit. Harus ada spare time minimal 2,5 jam untuk kemungkinan: pesawat awal delay, atau si Sulung kebelet pup, atau si Bungsu kelaparan sehingga lemas tak berdaya (alasannya yang super lebay).

Tersaring lah 3 pesawat yang affordable memenuhi semua variable di atas, yaitu KLM, Etihad dan Lufthansa. Saat hasil perhitungan diserahkan ke Pak Penyandang Dana, maka pilihan dijatuhkan ke …. Emirates. Loh kok bisa? Alasannya mulai 1 Juli 2015 pesawat dari Dubai ke Dusseldorf adalah pesawat baru double decker Airbus 380. Jiaaah … tiwas capek-capek ngitung. Ya sudahlah, toh variable jumlah transit dan transit time terpenuhi. Kebetulan saat kami memutuskan membeli tiket, yaitu 5 bulan sebelum berangkat, ada promo dari kartu kredit diskon 10% untuk tiket Emirates ke semua kota tujuan. Dollar pun belum tembus ke 13.000.

Emirates380

Yang bikin nyesek adalah, tepat seminggu setelah kami beli tiket, Turkish Airline banting harga menjadi hanya 1.000an Dollar. Mungkin promo ini sehubungan dengan kasus hilangnya beberapa turis Indonesia di Turki. Maka iming-iming banting harga dianggap ampuh mempertahankan jumlah penumpang. Kami menghibur diri, toh Turkish Airline gak pake A380 …. padahal dalam hati nyesek juga.

3. Memesan hotel

Sebelum memesan hotel, saya harus memastikan berapa hari kami menginap di setiap kota. Lama tidaknya menginap ditentukan oleh banyak sedikitnya kegiatan di tempat itu. Oleh karena itu saya detilkan lagi itinararynya hingga terbagi 3 bagian kegiatan, pagi, siang, dan malam. Setelah jadi, dievaluasi lagi, apakah si Bungsu, titik terlemah di keluarga kami, tidak kelelehan dengan kegiatan itu. Di sisi sebaliknya harus memikirkan si Sulung yang paling lasak, agar tidak keleleran ke tempat lain saat kami harusnya sedang beristirahat. Terakhir mengklopkan semuanya ini dengan Suami.

Saya biasanya mencari hotel di Booking.com dan melihat review hotel yang diinginkan di Tripadvisor. Untuk negara Eropa, Booking.com memberikan pilihan hotel lebih banyak.

Saat mencari hotel di Booking.com, selain memasukkan nama kota, tanggal check in dan check out, saya memilih juga opsi “jumlah tamu”. Opsi ini diisi 1 kamar untuk 4 orang. Prinsip kami, sekeluarga harus ngariung di satu kamar, atau paling tidak 2 kamar dengan connecting door. Ternyata pilihan hotel model ngariung gini cukup banyak. Di Budapest dan Prague, saya dapat serviced apartement yang lega banget dan harga terjangkau. Tapi kalau di Jerman pilihannya lebih sedikit. Jadi dapatnya quadruple room di Munich dan 2 rooms connected di Dusseldorf dengan ukuran kamar liliput seperti di Jepang. Pilihan kamar jenis ngariung gini adalah variabel pertama dalam memilih kamar.

Variabel kedua adalah adanya AC. Masih banyak hotel Eropa yang designnya modern dengan harga tinggi, tapi setelah diteliti lagi, kamarnya gak ada ACnya! Hotel atau apartemen seperti ini biasanya mengandalkan ventilasi yang baik dengan atap tinggi atau jendela yang lebar. Memang sih kami merasakan saat matahari mulai tenggelam jam 9 malam di musim panas (summer), suhu ruangan yang tak ber-AC mulai dingin dengan sendirinya. Apalagi bila bisa membuka jendela lebar-lebar. Tapi setelah membaca salah satu review, yang kebrisikan dengan bar di dekat hotel saat membuka jendela, maka saya memastikan banget harus ada AC. Keputusan ini ternyata tepat, karena kami merasakan heatwave di Budapest, yang suhunya sampai 40 C. Kebayang bakal ngebul kepala kalau mengandalkan kipas angin doang.

Variabel ketiga adalah lokasi. Kami tidak terlalu mementingkan pemandangan indah dari jendela. Yang diutamakan adalah lokasi dekat dengan pusat kota atau minimal dekat halte bus atau stasiun kereta. Di Dusseldorf dan Munich kami memilih lokasi dekat dengan stasiun kereta utama (main train station). Tapi tengah kotanya masih enak dijangkau dengan berjalan kaki. Sedangkan di Budapest dan Prague kami memilih hotel yang tepat di tengah kota, dekat dengan halte bus tapi agak jauh dari main train station.

Ada yang bikin saya deg-degan saat memesan hotel di Prague lewat booking.com. Pemilik apartemen di Prague adalah pengelola beberapa kompleks apartemen di kota itu. Jadi saat mengirim konfirmasi yang harusnya di Apartment A, eh ketukar dengan Apartment B. Protes saya ke hotel tersebut lama banget diresponnya. Untunglah Booking.com tanggung jawab menyelesaikan hal ini. Selain kirim email bahwa pesanan saya sudah pasti di Apartment A, Booking.com juga menelpon saya saat saya masih di Budapest, memberitahukan pesanan saya di hotel A sudah confirmed.

Saya tidak selalu memesan hotel di Booking.com. Beberapa hotel saya pesan langsung ke web resmi hotelnya. Pemesanan seperti ini khusus untuk hotel yang berasal dari jaringan hotel Internasional, dimana saya jadi membernya. Saya menghindari memberikan data pribadi dan kartu kredit ke banyak hotel.

Next, Memesan Tiket Kereta 

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s