Italia Bagian 2 – Pisa

Mengingat-ingat perjalanan dua setengah tahun yang lalu ke Eropa meski tidak traveling sendiri, tetap menyisakan kenangan yang indah. Memang kurang challenging karena kita tidak perlu mikir banyak mau kemana, makan dimana, naik apa, dan seterusnya. Perjalanan cenderung santai. Sangat santai malah. Cocok buat orang yang sudah stress dengan beban kerja kantor yang menghimpit.

Hari kedua kami di Eropa masih di negara Italia. Pagi jam 8 kami sudah check out dari hotel di Roma karena akan bergerak ke kota Florance – Pisa. Jarak Roma ke Pisa yang ada di utara Italia sekitar 350 km. Praktis seharian kami di jalan. Supir bus kami sudah ganti dengan supir bus yang sudah berpengalaman dari Czech Republic. Bersyukur sekali dapat supir ini. Namanya Libor. Meski tampangnya tidak terlalu ramah, jarang tersenyum, tapi sangat helpful, selalu ontime dan cekatan dalam berkendara.

Saya tidak terlalu ingat bagaimana pemandangan sepanjang perjalanan dari Roma ke Pisa. Saya lelap tertidur di bus, menggantikan tidur semalam yang tidak nyenyak. Tapi saya ingat setiap kali bus berhenti. Sesuai peraturan di Eropa, pengemudi diwajibkan istirahat minimal 45 menit setelah menyetir selama maksimal 4.5 jam. Pastinya ada sanksi bila ketentuan ini dilanggar. Libor sangat disiplin dengan ketentuan ini. Ia menggunakan waktu 45 menit istirahat secara efektif untuk ke toilet, minum dan makan, juga tiduran di dalam bis. Saat dia tiduran di dalam bis, maka pintu bis akan dikunci dari dalam. Sekiranya kami kembali ke bis sebelum waktu yang ditentukan, jangan harap dia akan buka.

Pemberhentian pertama adalah di jalan di pinggiran desa. Ada sebuah toko kecil yang dikelola penduduk. Bagi kebanyakan ibu-ibu barang jualan di toko ini tidak menarik. Sebaliknya, saya justru berbinar-binar. Toko ini menjual aneka saus pasta. Mulai dari bolognaise, aneka pesto, hingga aneka cream cheese. Penjual menyediakan potongan crackers untuk mencoba aneka saus ini. Rasanya jauh lebih wangi disbanding pesto botolan yang ada di supermarket. Saya membeli beberapa botol. Salah satunya pesto dengan bahan baku jamur truffle. Mata saya masih berbinar-binar melihat hasil panen petani yang dijual segar. Ada juga wine hasil olahan petani, hingga aneka sabun dari bahan herbal. Sayangnya waktu sudah habis. Libor sudah menunggu di belakang kemudi. Ini berarti kami harus bergegas.

Pemberhentian kedua sudah sedikit melewati jam makan siang. Kami sudah di daerah Firentino. Dijadwalkan makan di restoran Italia Tutto Bono. Menurut tour leader, kami datang terlalu cepat. Jadi sambal menunggu kami dibawa ke salah satu factory outlet khusus produk kulit. Hmmm … curiga dengan modus ini. Saya hanya melihat selintas di toko ini, dan memutuskan menunggu rombongan di luar toko. Karena tidak bisa masuk ke dalam bis jadilah saya dan suami berfoto-foto diluar.

Tuttobono Perut sudah sangat keroncongan saat kami tiba di Tutto Bono. Saya sudah berharap, minimal rasanya sama dengan salah satu restoran Itali fine dining di Jakarta. Tapi ternyata tidak. Kecewa sekali denJustingan sajian spageti saus margherita alias saus tomat doang, yang tidak hangat. Beberapa potong garlic bread yang lumayan, dan segelas red wine. Yang membuat heboh adalah pelayannya 😉 Salah satu pelayannya tampangnya mirip banget dengan Justin Bieber. Lagi-lagi para remaja putri heboh foto bareng, termasuk si Bungsu. Norak? Iya sih ….tapi biarin lah mumpung masih remaja. Untungnya si Justin gadungan ini ramah, meski tidak bisa berbahasa Inggris dan tidak tahu siapa itu Justin Bieber.

PisaMenjelang sore tibalah kami di menara miring Pisa yang berada dalam satu komplek gereja yang lengkapnya bernama Pisa Baptistry of St. John. Karena Winter, sore cepat sekali menjadi gelap. Agak kecewa karena kami hanya bisa berfoto-foto di luar gedung, dengan terburu-buru pulak. Turis pun seabreg-abreg banyaknya, tapi gaya fotonya hampir seragam. Gaya berfoto standar yang diminati adalah berpura-pura menahan atau mendorong condongnya menara #rolledmyeyes

Saya ingin sekali menikmati indahnya disain dalam ruangan gereja. Tapi ternyata sudah tutup. Menikmati gedung itu dari luar pun membuat kekaguman saya tiada habisnya. Banyak sekali pahatan dengan detail yang halus. Jangan-jangan ada orang Indonesia ya yang diimpor ke Itali untuk memahat ini.DeatailPisa

Untungnya hotel kami dekat dengan kompleks gereja ini. Jadi esok harinya saat matahari bersinar cerah, kami bisa berjalan kaki ke area ini. Tidak untungnya adalah, hotel kami berada di area kuno jaman dulu. Jadi berasa agak-agak spooky gimana gitu. Hiiiii…..

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s