London Kota Mahal dan Sibuk

Memasuki kota London melalui stasiun kereta St. Pancras International di malam yang dingin akhir Desember 2016, kami tidak bisa menutupi perasaan girang dan antusias saat keluar dari peron. Kami disambut deretan toko-toko bermerk di koridor stasiun. Bagian depan deretan toko itu seperti ditutup dinding kaca yang lebar dan panjang. Sementara bagian belakang toko nampak lengkungan dinding bata merah yang khas, memadukan nuansa kuno dengan glamournya Inggris. Bingung jadinya. Mau window shopping dulu atau mau cari informasi dulu. Yang pasti badan sudah capek karena sebelumnya kereta delay lebih dari 3 jam di Belgia.

lon-stpancras.jpg

Saya memutuskan mampir ke island booth dengan tulisan “Tourist Centre” di tengah koridor. Sementara anak-anak menunggu sambil ngeces melihat etalase toko. Info dari mbak yang jauh dari kesan helpful di booth mengenai Oyster Card membuat saya melongo … mahal amat yak? Kami terbiasa dengan transportasi Jerman yang murah kamana wae. Bayangkan kartu abunemen kereta dan bus untuk seminggu di satu kota di Jerman kurang dari 30 Euro. Lah ini harga Oyster Card untuk 2 hari 30 Pounds. Padahal kurs mata uang Ponsterling lebih mahal daripada Euro.

Kartu Kerang untuk Transportasi Umum

Info yang saya dapat dari browsing sebelumnya, Oyster Card adalah kartu pra bayar yang umum dimiliki oleh penduduk London untuk penggunaan seluruh transportasi umum kota London (bis dan kereta/tube). Harga kartu kosongan 5 Pounds, bisa direfund kalau sudah tidak dipakai. Kartu bisa diisi 20 Pounds, yang umumnya habis dalam 2 hari untuk keliling kota dari Zone 1-4. Dengan Oyster card, kita tinggal tap kartu tersebut di pintu masuk dan keluar peron kereta atau di pintu masuk bis. Tidak perlu pusing mikirin kita traveling ke zone berapa, selama saldonya mencukupi semua terhitung otomatis. Tarif dengan Oyster Card pun lebih murah bbrp Pounds dibanding bila kita beli ticket ketengan. Misalnya Bila kita bepergian ke Zone 1-4 tarif ketengannya 4.90 Pounds sekali jalan. Dengan Oyster Card harganya meningkat bertahap. Semakin zauh range zonenya semakin mahal tapi tetap lebih murah daripada harga ketengan, yaitu 2.40 (Zone 1), 2.90 (Zone 1 ke 2), 3.30 (Zone 1-3) dan 3.90 (Zone 1-4).

Belakangan saya baru perhatikan, Tourist Center ini sepertinya adalah counter yang jualan city tour kota London. Sedangkan pusat info turis yang sebenarnya saya cari ada di Lower Ground dengan tulisan “Visitor Center”. Kebetulan malam itu terlihat sudah tutup. Si mbak penjaga counter bertampang bete ini menawarkan Oyster Card yang sudah ada isinya seharga 30 Pounds. Design kartunya colorful lucu gak cuma biru standar Oyster Card. Menurut info si mbak, kartu Oyster card yang dia jual, akan expired dalam 2 hari setelah pertama kali di-tap. Kalau tidak mau expired maka kartu harus diisi lagi sebelum 48 jam. Saat saya mengernyitkan dahi mendengar penjelasannya karena berbeda dengan info yang saya dapatkan dari internet, si mbak menambahkan info kalau ada Oyster Card regular yang bisa dibeli di vending machine di lower ground. Hiiih…ngobrol dong dari tadi. Segera saya bergegas ke lower ground untuk membeli kartu yang regular yang setahu saya isinya tidak ada expiry date-nya.

lon-oystercard.jpg

Ternyata vending machine Oyster Card yang berjejer rapi mirip mesin ATM itu sudah panjang antriannya. Ngeliatnya aja udah males. Suami yang sempat melihat google map saat menunggu saya cari info, mengajak kami jalan kaki saja menuju hotel. Jaraknya 1.2 Km dari stasiun. Kami mematuhi sang Pemimpin Rombongan dan segera beriringan menggeret koper besar masing-masing menyusuri trotoar London menuju hotel.

Belakangan setelah kembali ke Indonesia (telat banget …) saya baru tahu ada Oyster Visitor Card (OVC) Selain harganya lebih murah (3 Pounds), OVC berlaku juga sebagai discount card untuk tiket masuk beberapa musium. Kartu hanya bisa dibeli online, dan harus dibeli di luar London. Jadi dikenakan biaya pengiriman. Silakan itung-itung sendiri lebih murah mana. Setahu saya biaya pengiriman ke Jakarta dari London pasti mahal. Entahlah apakah OVC yang dibeli online ini sama dengan yang dijual si mbak di counter tadi, saya gak tahu

Sepanjang Jalan Kenangan

Kami menginap di hotel Ibis Euston. Jarak 1 Km jalan kaki di London terasa lebih jauh daripada jalan di Koln, Jerman. Saat keluar dari Stasiun kami langsung disambut dengan hingar bingarnya kota. Memang London termasuk kota yang tidak pernah tidur di Eropa. Penduduk asli, imigran dan turis dari berbagai ras dan suku bangsa sliweran di sepanjang jalan. Mobil dan bis saling klakson, diramaikan  dengan sirine ambulans dan polisi yang bergantian melewati kami. Saking seringnya suara sirine yang kencang terdengar, rombongan keluarga Amerika di belakang kami sampai teriak “Shut up!!!”

Jalan kaki di London ternyata tidak koper-friendly. Trotoarnya tidak mulus, banyak conblock-nya yang rompal alias lepas-lepas. Kebetulan malam itu habis hujan besar. Genangan air di pinggir jalan yang dilindas mobil yang lewat kencang bisa membasahi pejalan kaki. Kalau tidak ingat sedang berjalan bersama anak-anak, rasanya sudah mau teriak, shhhhhh*t.

Tidak hanya pengendara mobil, pejalan kaki pun lebih tidak disiplin dibanding di Jerman. Banyak pejalan kaki yang tidak sabar nekad nyebrang walaupun lampu ‘dilarang nyebrang’masih menyala merah. Sedangkan di Jerman saat saya baru mencondongkon badan mau nekad nyebrang di jalan yang amaaat kosong, udah dilirik sinis seperti ketangkap basah mau melanggar lau lintas.

Untungnya (orang Jawa memang selalu untung…) papan peta cukup banyak tersedia di sudut-sudut jalan London. Selain nama jalan utama, di papan peta itu juga ada info dimana subway dan halte terdekat. Terlihat beberapa turis berhenti di situ untuk mencari tempat tujuan, termasuk kami.

Hotel kecil, Harga mewah

Liburan kali ini saya booking cepat di jaringan hotel yang sedang menawarkan diskon hingga 40% plus free breakfast. Diskon ini hanya khusus member dengan rentang waktu pemesanan yang sangat singkat. Saya tidak sempat search lokasi strategis di keramaian turis, yang penting harga murah dan dekat stasiun. Jadilah kami menginap di Ibis Euston yang hanya berjarak 200 meter ke stasiun Euston.

Pusat tempat menginap turis sebenarnya berada di tengah kota seperti di Kensington yang dekat dengan pusat keramaian dan atraksi. Tapi kami merasa cukup nyaman tinggal di Euston. Walaupun butuh 30 menit ke Kensington, tapi nyaman untuk wira-wiri ke beberapa tempat tujuan kami nanti.

Saya memesan 2 kamar mungil standar Ibis dengan connecting door untuk keluarga kami. Mungilnya kamar kami agak menyulitkan saat kami berbarengan buka koper. Tapi tempat tidurnya sangat nyaman. Sarapannya juga OK, gratis lagi.

Harga hotel kami ini meskipun sudah diskon 40% tetap terasa sangat mahal buat kami. Bayangkan saja harga hotel London 53 Pounds/orang/malam, sedangkan di Koln dan Amsterdam hanya 20-21 Euro/orang/malam. Sama-sama free breakfast. Mungkin juga karena kami menginap saat malam tahun baru ya. Harga hotel tgl 31 Des dan 1 Jan meningkat 2 kali lipat.

Malu-malu bawa rice cooker

Saat liburan pertama kali ke Eropa bersama tour travel 4 tahun yang lalu, saya sempat geli dengan salah satu keluarga yang repot membawa rice cooker. Setiap pagi, tercium harumnya pandan wangi dari kamarnya, karena sang Suami dan anaknya harus sarapan nasi.

Kali ini saya dengan malu-malu membawa mini rice cooker. Menghitung harga makan di London yang bisa 10-15 Pounds per orang untuk sekali makan termasuk minum, terasa sangat mahal. Di Koln, Jerman saya masih bisa makan nasi dengan lauk seharga 5 Euro. Masakan harga sekali makan di London sama dengan harga mini rice cooker yang hanya Rp. 189.000. Bawa beras packing-an plus lauk seperti rendang matang, abon dan kering tempe untuk 5 hari, harganya sama dengan makan kami sekeluarga untuk sekali makan di London.

Jadilah setiap malam kami makan nasi rendang plus salad yang beli di supermarket seharga 4 Pounds. Minumnya sudah jus jeruk atau anggur yang dibeli di supermarket. Kalau kurang masih bisa nambah air kran. Makan citarasa tanah air begini tidak hanya enak, tapi kebersamaan kumpul bersama keluarga dengan harumnya nasi dan gurihnya rendang di London, benar-benar mendekatkan kami sekeluarga. Tak henti-hentinya kami bersyukur untuk berkat Tuhan bagi keluarga kami.

Advertisements

Author: javanicblue

https://javanicblue.wordpress.com/about/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s